Ebrahim Raisi Pimpin Penghitungan Suara Pilpres Iran, Ucapan Selamat Mengalir

  • Whatsapp

TEHERAN, KOMPAS.com – Ucapan selamat mengalir untuk Ebrahim Raisi pada Sabtu (19/6/2021) karena dianggap memenangi pemilihan presiden (pilpres) Iran bahkan sebelum hasil resmi diumumkan.

Read More

Raisi merupakan ulama konservatif alias garis keras dan merupakan salah satu calon presiden (capres) Iran. Pemungutan suara pilpres Iran digelar pada Jumat (18/6/2021).

Pada Sabtu, Raisi memimpin penghitungan suara dalam pilpres Iran dengan mendulang 17,8 juta suara menurut pernyataan pejabat pemerintah yang disiarkan televisi sebagaimana dilansir Reuters.

Tiga capres saingan Raisi bahkan mengucapkan selamat kepadanya karena dianggap memenangi pilpres, bahkan belum hasil resmi diumumkan sebagaimana dilansir AFP.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Presiden Iran Hassan Rouhani yang akan lengser memberi selamat kepada presiden pilihan rakyat, tanpa menyebutkan nama.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Karena belum diumumkan secara resmi, saya akan menunda memberikan selamat secara resmi. Tapi sudah jelas siapa yang paling banyak mendapat suara,” kata Rouhani.

Dua capres berpandangan ultrakonservatif lain, Mohsen Rezai dan Amirhossein Qazizadeh Hashemi, secara eksplisit mengucapkan selamat kepada Raisi.

Saat penghitungan suara masih berlanjut, ketua kantor pilpres Iran Jamal Orf mengumumkan Raisi meraup 62 persen suara sebagaimana dilansir AFP.

Raisi dilihat sebagai orang dekat dengan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang memiliki kekuatan politik tertinggi di Iran.

Pemungutan diperpanjang dua jam melewati batas waktu tengah malam di tengah kekhawatiran rendahnya jumlah pemilih yakni 50 persen atau kurang.

Menang sebelum pilpres

Ketika pemungutan suara berlangsung, televisi pemerintah Iran menyiarkan ramainya orang-orang yang memberikan suara di tempat pemungutan suara.

Tetapi, jauh dari tempat pemungutan suara, beberapa orang marah karena pilpres Iran dianggap sudah diatur untuk memperkuat kelompok ultrakonservatif.

“Saya memilih atau tidak, seseorang sudah terpilih. Mereka membuat sandiwara pilpres untuk media,” ujar seorang pemilik toko di Teheran, Saeed Zareie.

Antusiasme rakyat dalam pilpres semakin berkurang dengan meningkatnya inflasi dan hilangnya pekerjaan.

Sementara itu, pandemi Covid-19 di Iran jauh lebih mematikan daripada di tempat lain di kawasan itu. Lebih dari 80.000 orang di Iran tewas akibat virus corona.

Di sisi lain, orang-orang yang memberikan suaranya dalam pilpres banyak yang mengaku mencoblos Raisi.

Mereka memilih Raisi karena dia berjanji untuk memerangi korupsi, membantu orang miskin, dan membangun jutaan hunian untuk keluarga berpenghasilan rendah.

Seorang perawat bernama Sahebiyan mengaku mendukung Raisi karena kampanye anti-korupsinya.

Dia berharap, Raisi akan memajukan Iran dan menyelamatkan orang-orang dari keterpurukan ekonomi, budaya dan sosial.

Sebelum pilpres digelar, AFP mewartakan banyak media di Iran menggadang-gadang Raisi sebagai calon pengganti Khamenei.

Raisi merupakan seorang hakim sekaligus ulama Syiah garis keras berusia 60 tahun. Dia dijatuhi sanksi oleh Amerika Serikat (AS) atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia.

Rouhani lengser

Sejak revolusi 1979, kekuatan tertinggi di Iran berada di tangan pemimpin tertinggi. Namun, presiden memiliki pengaruh besar di berbagai bidang mulai dari kebijakan industri hingga urusan luar negeri.

Rouhani bakal meninggalkan jabatannya pada Agustus setelah menjabat sebagai Presiden Iran selama dua periode, masing-masing periode berdurasi empat tahun.

Pencapaian penting Rouhani adalah kesepakatan nuklir pada 2015 di mana Teheran bersedia membatasi program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi internasional.

Tetapi, harapan Iran yang akan menuai keuntungan pupus pada 2018 ketika presiden AS kala itu Donald Trump membatalkan kesepakatan tersebut.

Tak cukup sampai di situ, Trump juga meluncurkan kampanye yang dia anggap sebagai tekanan maksimum untuk mengisolasi Iran secara diplomatik dan ekonomi.

Iran selalu membantah mengembangkan senjata nuklir. Namun, Trump menuduh Iran masih berencana membuat bom dan mengacaukan Timur Tengah melalui proksi mereka di Irak, Lebanon, Suriah, dan Yaman.

#Ebrahim #Raisi #Pimpin #Penghitungan #Suara #Pilpres #Iran #Ucapan #Selamat #Mengalir #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts