Alhamdulillah, Reli Harga Nikel Makin Kencang!

  • Whatsapp
reli harga nikel kencang
reli harga nikel kencang
banner 468x60

Saat Tiongkok dilanda virus Covid-19, kebijakan lockdown di Kota Wuhan dan sekitarnya berdampak pada perekonomian global. Harga nikel mengalami pemerosotan dan aktivitas sektor bisnis sempat lumpuh termasuk menghambat produksi stainless steel yang mengakibatkan harga dan permintaan turun. Bulan demi bulan, reli harga nikel perlahan semakin kencang dan bangkit dari keterpurukan. 

Harga nikel pada bulan Desember 2019 lalu ada di angka kisaran US$14.000/ton namun mengalami penurunan pada awal bulan Maret 2020 menjadi US$11.000/ton. Di tahun 2020 tepatnya mulai bulan April, harga nikel berhasil meningkat, bahkan bulan Desember 2020 harga nikel mencapai US$17.943/ton!

Read More

banner 300250

Data lain dari London Metal Exchange pada hari Selasa (12/1) lalu menunjukkan harga reli  nikel dalam periode waktu tiga bulan yang aktif ditransaksikan semakin kencang, untuk 1 metrik ton nikel harganya dibanderol US$17.671/ton.

sumber: lme.com
sumber: lme.com
sumber: lme.com
sumber: lme.com

Lantas, apa yang membuat reli harga nikel semakin hari menjadi kencang?

Bermula sejak larangan ekspor bijih nikel di Indonesia di bulan Januari 2020, membuat beberapa negara yang terbiasa membeli nikel di Indonesia tidak bisa menaruh harapan besar. Hal tersebut tidak memengaruhi Tiongkok, sebelum kebijakan pemerintah diberlakukan, Tiongkok memanfaatkan stok yang mereka miliki. 

Sebagai produsen baja anti karat (stainless steel) terbesar di dunia, Tiongkok menyumbang dua pertiga dari permintaan nikel global sekitar 23 juta ton pada 2019 lalu. Setelah bangkit dari pandemik Covid-19 yang melumpuhkan ekonomi Tiongkok, industri baja anti karat kembali normal diikuti permintaan berbagai negara dari luar Tiongkok yang meningkat, sehingga membuat harga nikel menjadi naik.

Analis Henan Putihrai Sekuritas Meilki Darmawan menganalisis sejumlah sentimen yang dapat mendorong peningkatan harga nikel. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur di Tiongkok saat ini sudah berada di atas 50. Hal ini menandakan ekspansifnya industri di Negeri Tirai Bambu. Akibatnya, industri baja anti karat (stainless steel) Tiongkok kembali berproduksi normal dengan meningginya pemesanan dari luar Negeri Panda tersebut.

“Dampaknya adalah harga nikel yang terus meningkat karena industri baja anti karat masih menjadi konsumen terbesar komoditas nikel sekitar 77% kontribusi,” pungkas Meilki.

Di dalam negeri sendiri, produksi nikel pig iron (NPI) diprediksi naik di tahun 2021 ini dengan kisaran 690.000-800.000 ton. Meskipun tidak lagi mengekspor nikel, pemerintah Indonesia sudah menemukan solusinya dengan hilirisasi nikel dan membangun pabrik baterai kendaraan listrik.

Presiden Joko Widodo pada pidatonya hari Minggu (10/1) lalu, mengharapkan Indonesia dapat menjadi pemain di pasar industri mobil listrik global. Artinya, kita bisa mengolah bijih nikel menjadi baterai listrik lithium. Nikel di masa depan menjadi pusat perhatian dunia. 

Era kendaraan listrik diperkirakan membuat harga komoditas tambang nikel menembus US$20.000/ton, faktor lainnya yang membuat reli harga nikel tak terhenti adalah adanya periode super-cycle commodity setelah pandemik Covid-19.

Related posts