Revolt Industry, Kisah 5 Sekawan Bisnis Kulit Sapi Beromzet Rp 700 Juta

  • Whatsapp
banner 468x60

JAKARTA, KOMPAS.com – “Kita ini negara penghasil kulit sapi terbaik di dunia,” begitu kata Agung D. Kurnianto saat memulai perbincangan dengan Kompas.com tentang usahanya, Revolt Industry.

Read More

banner 300250

Kulit sapi memang menjadi bahan baku paling krusial dalam bisnis yang Agung geluti. Bisnis dengan brand “Revolt Industry” ini merupakan usaha lokal asal Surabaya, berfokus pada aksesoris pria berupa barang-barang berbahan dasar kulit.

Ide bisnis ini bermula pada 2012, ketika Agung bersama empat orang temannya terbersit keinginan mau menjadi wirausahawan. Membuat produk kulit olahan menjadi salah satu ide lantaran kulit sapi Jawa merupakan yang terbaik di kelasnya.

Alasan lainnya, kulit sapi jawa tidak dikelola dengan baik dan kerap disebut sebagai sampah. Pengrajin kulit sapi dari Indonesia cenderung memproduksi barang-barang berbahan dasar kulit sapi untuk dijual ke luar negeri. Setelah kembali ke Indonesia, produk menjadi lebih mahal hingga 8 kali lipat.

“Dibikin di Indonesia, dicap di Indonesia, dibawa ke luar, dijual 8 kali lipat lebih mahal. Kita ingin membuktikan bahwa anggapan brand lokal tidak sebaik dibanding barang di mal, itu salah,” kata Agung saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (31/10/2020).

Baru lulus kuliah saat mulai merintis bisnis tahun 2014 silam, lima sekawan ini tentu keterbatasan modal. Mereka akhirnya patungan untuk modal awal usaha. Jumlahnya tak sampai Rp 50 juta, masing-masing hanya sekitar Rp 7 juta. Uang tersebut digunakan untuk menyewa salah satu garasi milik temannya.

Agung bercerita, semua pelajaran diserap dari Youtube. Mulai dari cara menjahit kulit sapi olahan hingga cara pemasaran. Pemasaran paling dasar adalah menawarkan produknya ke keluarga, teman, tetangga, dan kolega terdekat.

Sarana pemasaran online tak dilupakan. Brand Revolt Industry dipasarkan melalui Instagram dan website. Alhasil, produknya diterima dengan baik. Pelanggannya bahkan datang dari luar negeri, seperti Jepang dan Amerika Serikat.

Sedikit demi sedikit, usahanya membuahkan hasil. Klien datang tiada henti, relasi mulai terjalin.

“Kami percaya, kalau usahanya memang sudah passion, otomatis akan effort. Ketika effort lebih, otomatis skill kita juga bertambah. Dari skill, kita bisa dapat salary, berupa channeling, teman, relasi, dan lain-lain,” ucap Agung.

Instagram Revolt Industry Produk Revolt Industry

Hangus terbakar

Kala itu, Desember 2014. Rumah dan garasi yang menjadi pabrik kecilnya, hangus terbakar. Semua bahan baku, barang jadi, hingga tabungan ludes dalam waktu 15 menit.

Kelimanya kepalang pusing. Bisnis yang mulai tumbuh dan memiliki pelanggan setia itu harus dimulai lagi dari awal.

Beruntung, Revolt sukses membangun relasi sejak awal berdiri. Beberapa pelanggan datang membantu membersihkan garasi yang terbakar dan memberikan dukungan.

Bahkan, pelanggan dari luar negeri berempati mengirimi email dan bertanya apa yang bisa dibantu. Usai bersusah payah mencari bantuan, lima sekawan ini akhirnya mendapat modal.

“Hingga suatu ketika, kita berhasil. Ada teman kasih pinjaman lagi. Kita langsung kontrak rumah, kita hire (merekrut) beberapa orang teman untuk tim produksi,” cerita Agung.

Bangun lagi dari nol

Usai mendapat modal, Agung bersama 4 orang temannya kembali membangun usaha. Inovasi terus diasah, pemasaran secara offline dengan online terus digencarkan.

“Pemasaran dari relasi, dari teman-teman. Dari mulut ke mulut. Kita bayar ads juga di Instagram dan Facebook. Ngefek, kok,” papar Agung.

Sebagai UMKM lokal, visi Revolt Industry adalah memberdayakan penduduk negeri sendiri. Oleh karena itu, semua material menggunakan produk lokal. Pun orang-orang yang bekerja di dalamnya.

Untuk ciri khas, Agung tak ingin terbelit dengan rantai suplai yang terlalu panjang. Bahan mentah langsung diambilnya dari tukang samak agar pengolahan lebih maksimal dan warna jadi lebih bervariasi.

Produk yang semula hanya ditawarkan di Instagram, kini hadir di 3 e-commerce besar Tanah Air. Meski belum memiliki toko offline, produk Revolt Industry sudah tersedia di berbagai toko di Jakarta, Surabaya, Jepang, Amerika Serikat, dan Malaysia.

Produk yang ditawarkan makin bervariasi, seperti gelang tangan, gantungan kunci, dompet, tas, jaket, dan kaos.

Rentang harga untuk aksesories mulai dari Rp 125.000 hingga Rp 300.000. Dompet kulit mulai dari Rp 350.000 hingga Rp 1,2 juta. Sementara produk apparel mulai dari Rp 900.000 hingga Rp 2 juta.

“Saat pandemi, customer online selalu ada. Paling jauh dari Rusia, Brazil, bahkan Nepal. Kalau pelanggan Jepang sudah sering, sebulan bisa sampai 3-4 kali. Seminggu sekali pasti ada aja,” cerita Agung.

Revolt Industry pun kerap menghadiri event-event nasional maupun internasional. Revolt Industry pernah mengikuti event di San Francisco, Amerika Serikat, hingga di Yokohama, Jepang. Tak jarang, event internasional itu didapatnya dari pelanggan luar negeri.

“Di Yokohama itu karena kita dari tahun-tahun sebelumnya sudah cari tau dan salah satu customer di Jepang kenal sama pihak penyelenggara, kita minta tolong. Event terakhir di Malaysia temen juga yang ajak. Mimpi kita adalah membawa produk karya anak bangsa bisa dikenal global,” sebutnya.

Bangun toko pertama

Rencananya pada November tahun ini, Revolt Industry akan me-launching toko offline sejak 6 tahun beroperasi. Buka toko di tengah pandemi mungkin bukan hal yang mudah bagi pebisnis, Agung pun kerap dibilang gila karena berani ekspansi saat pandemi.

Tapi menurut Agung, pembukaan toko offline sesuai dengan nama brand-nya, Revolt, yang berarti perlawanan. Dia ingin membuktikan bahwa UMKM lokal tak sempat kalah oleh pandemi. Sebab bagaimanapun, akan selalu ada krisis dan tantangan yang mungkin lebih hebat lagi ke depan.

“Pasti saya dibilang gila. Tapi kalau kamu kalah dengan situasi seperti ini, pasti ke depan akan ada situasi yang mengancam lagi. Adanya pandemi kita diajari mental, bagaimana caranya mengembangkan pasar dengan menyediakan tempat salah satunya store (offline) itu,” seloroh Agung.

Kini, karyawan Revolt Industry sudah mencapai 52 orang. Omzetnya pun meroket antara Rp 300-700 juta per bulan. Meski dia tak memungkiri, pandemi Covid-19 sempat membuat omzet terjun bebas hingga 70 persen.

“Itu sangat menantang. Salah satu caranya terus inovasi, terus hidup, bermanfaat untuk sekitar, dan jangan takut untuk melangkah. Karena kita selalu percaya, setelah ada kebarakan, akan terjadi hal lain lagi setelah Covid-19. Ini salah satu dari proses yang setiap anak tangganya enggak bisa dilewati,” kata dia.

#Revolt #Industry #Kisah #Sekawan #Bisnis #Kulit #Sapi #Beromzet #Juta

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts