Dituding Bersekutu dengan Erdogan, Perancis Larang Kelompok Ini Beraktivitas

  • Whatsapp
banner 468x60

PARIS, KOMPAS.com – Perancis melarang kelompok sayap kanan Turki, Grey Wolves, melakukan kegiatan apapun, setelah mereka dituduh merusak sebuah tembok peringatan genosida terhadap etnis Armenia di dekat kota Lyon, dengan slogan pro-Turki.

Read More

banner 300250

Grey Wolves, sebuah organisasi internasional, dipandang bersekutu dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan dan diduga berada di balik pengerusakan tembok peringatan itu.

Melansir BBC Indonesia pada Selasa (3/11/2020), tembok peringatan itu diwarnai dengan grafiti kuning pada akhir pekan kemarin yang menyertakan inisial Erdogan.

Aksi pengerusakan itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Perancis dan Turki atas sengketa wilayah di Nagorno-Karabakh.

Pertempuran antara Armenia dan Azerbaijan meletus di wilayah pegunungan Nagorno-Karabakh pada 27 September lalu.

Wilayah itu diakui secara internasional sebagai bagian dari Azerbaijan, tetapi dikendalikan oleh etnis Armenia.

Turki telah mendukung Azerbaijan dalam konflik tersebut.

Langkah untuk melarang kelompok Grey Wolves akan diajukan ke kabinet Perancis pada Rabu (03/11).

Menteri Dalam Negeri Perancis Gerald Darmanin mengatakan bahwa larangan itu berarti bahwa kegiatan atau pertemuan apa pun oleh kelompok Grey Wolves dapat mengakibatkan denda atau hukuman penjara.

Karena grup tersebut adalah organisasi internasional, larangan tersebut hanya akan membatasi aktivitasnya di Perancis.

Gambar peringatan di luar Lyon menunjukkan grafiti kuning yang menampilkan nama Grey Wolves di samping huruf “RTE”, untuk Recep Tayyip Erdogan.

Pekan lalu, 4 orang di luar Lyon terluka dalam perkelahian antara tersangka nasionalis Turki dan warga Armenia yang memprotes Azerbaijan atas konflik Nagorno-Karabakh, menurut kantor berita AFP.

Ketegangan antara Perancis dan Turki juga meningkat baru-baru ini setelah Presiden Perancis Emmanuel Macron berjanji untuk mempertahankan nilai-nilai sekuler dan memerangi Islam radikal.

Menanggapi komentar Macron, Erdogan mengatakan presiden Perancis membutuhkan pemeriksaan kesehatan mental.

Itu terjadi setelah guru bahasa Perancis, Samuel Paty, dibunuh usai menunjukkan gambar kontroversial Nabi Muhammad kepada muridnya.

Bagi umat Islam penggambaran Nabi Muhammad dapat menyebabkan pelanggaran serius, karena tradisi Islam secara eksplisit melarang gambar Nabi Muhammad dan Allah (Tuhan).

Pekan lalu, Turki berjanji untuk mengambil “tindakan hukum dan diplomatik” atas kartun Erdogan yang muncul di sampul majalah Perancis, Charlie Hebdo.

Kartun itu menggambarkan presiden Turki sedang mengangkat gaun wanita berkerudung.

#Dituding #Bersekutu #dengan #Erdogan #Perancis #Larang #Kelompok #Ini #Beraktivitas

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts