5 Anak Wakil Asia termasuk Indonesia, Suarakan Dampak Negatif Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
banner 468x60

KOMPAS.com – Pandemi Covid-19 yang berlangsung hampir setahun ini di seluruh dunia, menjadikan anak harus menghadapi masalah yang belum pernah ada sebelumnya.

Read More

banner 300250

Tidak sedikit dari mereka mendapatkan tekanan berupa psikologi dan fisik sebagai akibat dari pandemi virus corona yang mengubah aspek ekonomi dan sosial masyarakat.

Dalam acara yang diselenggarakan oleh World Vision bersama dengan UNICEF, 5 anak perwakilan dari negara Thailand, Laos, Filipina, Indonesia, dan Myanmar, bercerita tentang kondisi anak di negara mereka yang rentan dan termarginalkan dalam menghadapi Covid-19.

Kepala Regional World Vision International untuk Asia Timur, Terry Ferrari mengatakan bahwa terdapat dampak berbahaya yang serius terhadap anak di masa krisis pandemi virus corona.

Dihimpun dari laporan beberapa anak di Asia, dikatakannya bahwa terdapat peningkatan jumlah anak yang berhenti sekolah untuk membantu orang tua mencari uang.

Ada juga peningkatan jumlah anak yang terpaksa melakukan pernikahan dini dan peningkatan praktik eksploitasi anak terhadap konten seksual.

“Mengejutkan mengetahui laporan yang mereka miliki. Sehingga, penting mendengarkan suara anak di kondisi krisis saat ini, untuk dapat menyelamatkan mereka dari situasi berbahaya,” ujar Ferrari dalam dialog virtual pada Rabu (18/11/2020).

Wakil Direktur Regional UNICEF Asia Timur dan Pasifik, Marco Luigi Corsi mengatakan bahwa memberikan kesempatan anak-anak untuk berbicara menyampaikan aspirasi mereka khususnya dampak tentang Covid-19, berguna untuk mencapai kebijakan dengan manfaat yang lebih tinggi. 

“Adanya dialog antara pemerintah dengan anak-anak juga diperlukan untuk meyakinkan anak-anak bahwa mereka akan mendapatkan solusi dari pemeirntah,” ucap Corsi. 

Thailand

Theeradach (17 tahun) asal Thailand bercerita tentang ketahanan pangan di lingkungan sekitarnya, khususnya keluarga petani yang terganggu akibat pandemi virus corona.

“Di komunitasku pendapatan mereka sangat berkurang karena tidak dapat panen dengan baik. Sehingga mereka tidak bisa membeli makanan yang cukup,” ujarnya.

Ia mendorong pemerintah untuk dapat menggalakan pemberian bantuan makanan terutama bagi para keluarga petani yang tidak mampu.

“Saya harap anak bisa mendapatkan makanan. Makanan sangat penting bagi kehidupan kami, maka pemerintah harus fokus melihat pada ketahanan pangan selama situasi Covid-19 ini,” ujarnya.

Laos

Pada awal mengetahui ada pandemi virus corona, Thepthida (15 tahun) mengatakan bahwa dirinya merasa takut terinfeksi. Ia takut membayankan dirinya atau anggota keluarganya terkena virus corona.

Lalu, semakin hari ia juga merasa tidak nyaman, bosan karena terdapat dampak terhadap kegiatan sekolah dan sosialisasinya.

Ia kemudian mengatakan bahwa masalah lainnya yang dihadapi oleh komunitasnya dalam kehidupan sehari-hari adalah kurangnya edukasi tentang kebersihan air untuk diminum atau mengolah makanan.

“Masalah itu membuat mereka berisiko tinggi dapat tertular virus corona,” ujarnya.

Ia ingin pemerintah Laos dan berbagai instansi terkait lebih memperhatikan dan mengatasi masalah air bersih layak minum, serta ketahanan pangan.

Pemerintah Laos telah melakukan langkah untuk ketersediaan air bersih warganya, tapi Thepthida berharap ada upaya berkelanjutan hingga ke desa-desa.

Filipina

Jayson (17 tahun) mengatakan, dalam situasi pandemi Covid-19, terutama adanya lockdown dan mengharuskan para murid belajar dari rumah dengan smartphone dan koneksi internet, membuat anak-anak dari keluarga menengah ke bawah sangat rentan putus sekolah.

“Selama lockdown, kami tidak dibolehkan pergi sama sekali. Kami harus berada di rumah, menunggu sampai aturan lockdown selesai,” ucapnya.

“Kami (anak-anak) dalam menghadapi kegiatan baru ini kami harus dapat beradaptasi, tapi secara bersamaan ini adalah tantang berat bagi kami,” ungkapnya.

Ia melanjutkan bahwa tantangan berat itu sangat terasa khususnya terkait masalah belajar secara virtual.

“Untuk teman-teman kami yang tidak punya koneksi internet, handphone, masalah belajar dari rumah itu jadi sulit sekali,” tandasnya.

Sehingga, tidak sedikit dari para murid yang tidak berkecukupan terdorong untuk berhenti sekolah. Memilih membantu orang tua mereka mencari uang.

“Kami mendorong pemerintah untuk memberikan kami pilihan-pilihan agar kami bisa melanjutkan pendidikan. Kami berharap ada bantuan terhadap pendidikan untuk anak-anak paling rentan, yang memiliki keterbatasan dalam mengakses teknologi,” ungkapnya.

Kepala Bidang Departemen Pendidikan Filipina, USEC Tonisito Umali mengakui belajar dari rumah secara virtual adalah tantangan terberat, tapi tidak hanya untuk murid-murid, tapi juga untuk instansi pendidikan pemerintah.

“Adalah fakta tentang tantangan bagi anak-anak kita, anak-anak Filipina, untuk menyesuaikan cara pendidikan yang diadopsi sekarang ini,” akunya.

Ia melanjutkan berkata, “Ini benar-benar sangat nyata terutama untuk berusaha memastikan pendidikan akan terus berjalan.”

Ia mengungkapkan, jika ketersediaan gadget telah tersedia semua untuk para murid melakukan sekolah virtual, masih ada tantangan lainnya bagi pemerintah, yaitu memastikan akses teknologi internet tidak disalahgunakan.

“Beberapa anak mungkin lebih rentan terhadap penayalahgunaan internet. Itu masih jadi tantang juga,” tambahnya.

Indonesia

Di Indonesia, Ishak (17 tahun) menemukan banyak kekerasan anak yang terjadi selama pandemi virus corona, contohnya perkawinan anak yang membuat anak-anak lebih rentan mengalami berbagai kekerasan.

Banyak juga anak yang dieksploitasi untuk bekerja, dengan semakin banyak ia mendapati anak bekerja di terminal bus, pinggir jalan, transportasi umum untuk berjualan berbagai macam jenis barang.

“Kami mengatakan kami ingin belajar, kami ingin pergi ke sekolah, dan kami ingin bermain dengan teman-teman kami, karena ketika mereka bekerja tidak jarang mereka mendapatkan kekerasan fisik,” ucapnya.

Ia sangat prihatin dengan situasi pandemi yang mengancam kesehatan, anak-anak juga menjadi korban kekerasan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Ia ingin pemerintah memberikan bantuan sosial, memperkuat hukum soal eksploitasi anak, wajib belajar 12 tahun dan melakukan survei kekarasan terhadap anak dari tingkat keluarga hingga masyarakat umum.

“Kami, anak-anak, ingin merasa aman dan dilindungi, kami ingin didengar dan hentikan eksploitasi anak. Mari kita peduli dengan masalah anak dan lingkungan kita,” ucapnya.

“Pemerintah tentu harus menyelesaikan masalah ini, tapi kita juga perlu berkontribusi juga. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing,” ucapnya.

Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Lenny N Rosalin mengatakan bahwa pemerintah telah membuat regulasi dan mandatori dari beberapa masalah yang diungkapkan oleh Ishak.

Pernikahan dini telah dicegah pemerintah dengan merevisi regulasi yang memberi batas usia siap menikah dari 16 tahun menjadi 19 tahun, yang dituangkan dalam UU No.16/2019.

“Memang wajib belajar 12 tahun itu perlu sekali, supaya usia perkaiwnan anak berkurang. Kita harus bekerja keras untuk rencana itu. Kami mendorong orang tua untuk dorong anak penuhi wajib belajar,” terangnya.

Myanmar

Grace (17 tahun) mengatakan bahwa selama pandeni ia dan anak-anak lain lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggunakan gudget, sehingga sering kali teman-temannya menjadi sasaran eksploitasi konten vulgar.

Ia kemudian menceritakan tentang pengalaman temannya yang mandapatkan kenalan baru di media sosial.

Setelah beberapa lama mengobrol, di luar dugaan temannya mendapatkan kiriman gambar-gambar yang tidak senonoh dari orang baru dikenalnya, dan mengajaknya untuk bertemu di luar.

“Karena kami memiliki waktu banyak untuk mengakses internet jadi kami sangat mudah tereksposure oleh konten kejahatan cyber perundungan hingga pelecehan seksual dalam ,” ucapnya.

“Kami ingin pemerintah memperkuat regulasi dan penerapan perlindungan terhadap anak terkait. Kami ingin ada keamanan dalam mengakses internet,” terangnya.

Indonesian’s Representative to ASEAN CWC, Yuyum Fhahni Paryani mengatakan bahwa pihaknya berniat untuk menindaklanjuti pemberian keamanan di media online.

“Ini penting karena ada kenaikkan kekerasan seksual di media sosial, tidak terkecuali para anak. Kami ingin anak-anak di ASEAN, khususnya dapat terlindungi dari macam-macam kejahatan cyber,” ujarnya.

#Anak #Wakil #Asia #termasuk #Indonesia #Suarakan #Dampak #Negatif #Pandemi #Covid19

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts