Wacana Balon Internet Google Loon di Indonesia dan Hambatannya Halaman all

  • Whatsapp
banner 468x60

KOMPAS.com – Google memiliki inisiasi untuk menyebarkan internet ke lokasi-lokasi terpencil di seluruh penjuru dunia. Sejak 2013 lalu, gagasan tersebut sedikit demi sedikit mulai direalisasikan. Dari gagasan itu kemudian lahirlah Project Loon.

Read More

banner 300250

Project Loon adalah proyek Google untuk membawa jaringan internet dengan wahana balon udara. Balon tersebut nantinya akan bertindak seperti sebuah satelit atau “BTS udara”.

Balon yang kemudian dikenal sebagai Google Loon ini bisa bertahan di lapisan stratosfer selama 100 hari menggunakan tenaga surya.

Balon Google tersebut tidak mengganggu lalu lintas udara karena dapat terbang jauh di atas ketinggian jelajah pesawat komersial.

Balon ini diterbangkan ke lapisan stratosfer dengan jarak dua kali ketinggian pesawat terbang. Namun, ketinggian tersebut masih jauh di bawah jalur orbit satelit.

Dari sana, balon-balon Google akan tersambung internet service provider (ISP) di darat melalui spektrum frekuensi radio tertentu. Penggunaan frekuensi inilah yang kemudian menjadi batu sandungan untuk Google Loon.

Sinyal yang disalurkan melalui frekuensi radio, akan diteruskan ke balon-balon lain yang sama-sama terbang di langit dan berada dalam jangkauan.

Sambungan internet ini kemudian dipancarkan oleh tiap-tiap balon ke permukaan bumi secara nirkabel dan bisa ditangkap dengan menggunakan perangkat penerima khusus.

Dalam blog resminya pada 2013 lalu, Google mengklaim bahwa balon tersebut bisa memberi koneksi internet dengan area diameter 40 km. Kecepatan transfer data yang dihasilkan disebut setara dengan 3G. Kala itu 4G memang belum semasif sekarang, apalagi 5G.

Proyek ini diharapkan bisa memberi akses internet untuk masyarakat di daerah terpencil yang sulit dijangkau infrastruktur darat.

Memang, masalah geografis kerap menyulitkan pembangunan infrastruktur internet. Seperti hutan yang sulit ditembus, pegunungan, atau pulau-pulau yang dipisah oleh lautan.

Kondisi ini juga jamak ditemukan di Indonesia. Bahkan di Indonesia ada wilayah yang kerap disebut sebagai daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).

Oleh karena itulah Google menjadikan wilayah udara Indonesia sebagai salah satu target.

Uji coba terbang di Indonesia

Pertengahan 2014, aplikasi Flightradar24 mendeteksi balon Google masuk ke wilayah udara Indonesia. Balon tersebut terbang di selatan Pulau Sumatera, sekitar area Bandar Lampung dan bergerak ke arah timur.

Pada Maret 2015 Google Loon kembali terdeteksi terbang di Indonesia.
Balon helium dengan kode “HBAL436” itu terlihat melintasi laut jawa dengan ketinggian sekitar 20.400 meter dan bergerak dengan kecepatan 37 knot.

Beberapa bulan setelahnya, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) periode 2014-2019, Rudiantara, memastikan bahwa Google Loon akan hadir di Indonesia.

Namun, kehadiran tersebut baru sebatas uji coba saja.

Balon Google tidak bisa begitu saja terbang di Indonesia. Google Loon harus mengikuti ketentuan yang berlaku, termasuk dengan menggandeng operator seluler di Tanah Air.

Rudiantara kala itu mengatakan sempat bertemu dengan pihak Google terkait penggunaan balon ini. Google disebut meminta izin untuk menggunakan frekuensi 900 Mhz dan 700 Mhz untuk uji coba, namun tidak dikabulkan.

Pasalnya, alokasi frekuensi 900 Mhz sudah digunakan untuk tiga operator seluler, sementara 700 Mhz masih digunakan untuk televisi analog.

Oleh karena itu, Google Loon harus masuk melalui existing player dengan cara merangkul operator seluler yang ada di Indonesia, bukan menggunakan alokasi spektrum sendiri.

Alhasil, uji coba Google Loon kemudian disepakati dengan menggandeng tiga operator seluler di Indonesia yakni Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat.

Uji coba tersebut digunakan menggunakan jaringan 4G LTE pada frekuensi 900 Mhz.

Jangka waktu pengujian tersebut dikatakan mencapai setahun. Setelah rampung, komersialisasinya membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun.

Jika benar-benar diadopsi, komersialisasi Google Loon di Indonesia seharusnya bisa dilakukan pada 2018 atau 2019.

Beda sikap pada Google Loon dan OpenBTS

Inisiasi untuk memperluas jaringan internet ke wilayah 3T di Tanah Air sebenarnya tidak hanya muncul dari Google Loon. OpenBTS yang diajukan atas inisiatif justru kurang mendapat dukungan pemerintah.

OpenBTS merupakan ukuran mini (downsizing) dari BTS reguler. Perangkat keras yang digunakan berupa universal software radio peripheral (USRP) untuk memancarkan sinyal jaringan standar seluler (GSM).

Terbentur regulasi

Peraturan Pemerintah (PP) nomor 52 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi dan PP nomor 53 tahun 2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit membuat Google Loon harus batal mengudara di Indonesia.

Kedua PP tersebut berlandaskan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi yang mengamanatkan bahwa frekuensi adalah milik negara.

Dalam penjelasan PP 53 tahun 2000, disebutkan bahwa spektrum frekuensi radio dan orbit satelit merupakan sumber daya alam terbatas, dan penggunaan spektrum frekuensi radio harus sesuai dengan peruntukannya.

Kemudian di PP 53 tahun 2000 pasal 25 ditegaskan bahwa Pemegang izin stasiun radio yang telah habis masa perpanjangannya dapat memperbaharui izin stasiun radio melalui proses permohonan izin baru.

Selain itu, izin stasiun radio tidak dapat dialihkan kepada pihak lain kecuali ada persetujuan dari Menteri.

Aturan inilah yang menjadi batu sandungan bagi Google Loon.

Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Kominfo, Anang Latif, membenarkan hal tersebut.

Kepada KompasTekno, Selasa (29/9/2020), selain aturan sharing frekuensi, Anang mengatakan balon internet ini juga masih terkendala regulasi tata ruang angkasa di Indonesia. Regulasi tersebut menjadi domain Kementerian Perhubungan, khususnya Dirjen Perhubungan Udara.

“Regulasinya belum memungkinkan,” kata Anang.

Wacana penggunaan Google Loon di Indonesia muncul lagi

Meski masih terbentur regulasi, wacana penggunaan Google Loon untuk menyebarkan internet ke daerah 3T kembali muncul.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny Plate, menyinggung penggunaan teknologi Loon untuk akses internet yang ditempatkan di atmosfer, sehingga bisa menjangkau wilayah lebih luas.

“Ada juga teknologi Loon, kita tengah mempertimbangkan dan mengkaji untuk memenuhi kebutuhan akses internet, terutama untuk layanan pemerintah di daerah,” kata Johnny saat meninjau kawasan wisata di Labuan Bajo, Kamis (24/09/2020).

Menanggapi wacana ini, Anang mengatakan bahwa saat ini Kementerian Kominfo masih mendengarkan presentasi dari pihak Google terkait teknologi Loon ini.

Menurut Anang, Google telah mengembangkan teknologi baru pada Loon, dan hal inilah yang membuat Kominfo kembali tertarik untuk menggunakan balon internet tersebut. Namun Anang tidak merinci update apa yang diberikan pada Loon.

“Betul, teknologi yang dipakai adalah Google Loon. Kami pelajari semua opsi teknologi yang ada,” ungkap Anang kepada KompasTekno, Selasa (29/9/2020).

Menurut Anang, untuk menggunakan teknologi Google Loon, pemerintah masih harus melakukan pembicaraan dengan sejumlah pihak, termasuk operator seluler.

#Wacana #Balon #Internet #Google #Loon #Indonesia #dan #Hambatannya #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts