Serunya Berburu “Sunrise” di Titik Tertinggi Gunung Bromo, Walau Suhu 12 Derajat Halaman all

  • Whatsapp
banner 468x60

PASURUAN, KOMPAS.com – Waktu menunjukkan pukul 04.42 WIB, Sabtu (3/10/2020) dini hari. Puluhan pengunjung sampai di sebuah warung tidak jauh dari lokasi bukit penanjakan desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan, salah satu titik spot melihat sunrise Gunung Bromo.

Read More

banner 300250

Sambil menunggu sunrise matahari, mereka menyantap minuman dan makanan sekadar menghangatkan tubuh. Ada teh, kopi dan mie instan. Sebagian pengunjung juga memanfaatkan waktu untuk shalat subuh di mushala kecil yang disediakan.

Temperatur suhu di gadget menunjukkan angka 12 derajat celcius, karena itu semua pengunjung terlihat mengenakan hangat seperti jaket, topi hingga sarung tangan. Beberapa warung juga menawarkan penyewaan baju hangat dengan harga Rp 50.000 sekali pakai.

Kencangnya angin lembah di ketinggian 2.329 mdpl menambah dingin suasana di titik tertinggi untuk melihat sunrise Gunung Bromo pagi itu.

“Kalau musim-musim panas seperti ini memang hawanya lebih dingin,” kata Wati, sopir jeep yang mengaku membawa penumpang dari Desa Cemorolawang Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo.

Dia mengangkut penumpang dari kompleks penginapan di sisi kaldera Gunung Bromo. Dia berangkat pukul 03.30 WIB dengan menyeberang lautan pasir Gunung Bromo.

Tepat pukul 04.54 WIB, sinar matahari mulai muncul dari arah timur, perlahan membuka pemandangan Gunung Bromo, gunung yang kerap dijumpai di lukisan kini membentang nyata di depan mata. Usaha bangun tidur tengah malam dan menerjang hawa dingin pun tuntas terbayar.

Para pengunjung mulai sibuk mengabadikan momen dengan latar belakang Gunung Bromo, ada yang berpose mesra bersama pasangan ada yang bersama teman, ada yang meminta tolong teman untuk mengambil gambar secara bergantian.

Menuju Bukit Teletubies hingga Pasir Berbisik

Bersamaan dengan munculnya sinar mentari pagi, perlahan hawa dingin mulai berubah sedikit hangat. Pukul 05.30 WIB, Wati kembali menghidupkan mesin jeepnya karena penumpang yang dibawanya sudah puas melihat sunrise di titik Penanjakan.

Wati membawa penumpangnya ke lokasi wisata lainnya di Gunung Bromo seperti titik Bukit Teletubies, dan Pasir Berbisik di area lautan pasir Gunung Bromo.

Selain bukit Penanjakan, ada 5 lokasi favorit yang biasa dikunjungi untuk melihat sunrise yakni di Bukit Cinta, Bukit Mentigen, Pos Dingklik, Bukit Kingkong, dan Seruni Point.

 

Pengunjung dibatasi selama pandemi

Pengunjung Bukit Penanjakan pada Sabtu pagi memang tidak terlihat sangat banyak, karena pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) masih membatasi pengunjung maksimal 250 orang.

Jumlah itu lebih banyak sejak awal mula wisata Gunung Bromo dibuka pada 28 Agustus 2020, sejak ditutup pada Maret 2020 akibat pandemi Covid-19. Saat itu, pengunjung bukit Penanjakan hanya dibatasi 178 orang.

“Hasil evaluasi tim terpadu dari TNBTS, TNI, Polri dan Satgas Covid-19 Malang, Probolinggo, Pasuruan dan Lumajang, jumlah kuota pengunjung akan terus ditambah, jika tidak sampai ada klaster penyebaran Covid-19 di taman wisata Gunung Bromo,” kata Kepala Balai Besar TNBTS John Kennedi saat dikonfirmasi Minggu (4/10/2020).

Awal dibuka, jumlah pengunjung wisata Gunung Bromo hanya dibatasi 20 persen atau 739 orangnper hari, lalu 2 pekan selanjutnya ditambah menjadi 40 persen menjadi maksimal 1.265 perhari.

Rincian masing-masing site lokasi yakni Site Penanjakan 250 orang dari sebelumnya 178 orang, Site Bukit Kedaluh 129 orang dari sebelumnya 86 orang, Site Bukit Cinta 42 orang dari sebelumnya 28 orang.

Kemudian, Site Mentigen 150 orang dari sebelumnya 100 orang dan Site Savana Teletubies sebanyak 694 orang dari sebelumnya 347 orang.

“Saya yakin kuota bisa terus bertambah karena semua stakeholder pariwisata berkomitmen kuat menegakkan protokol kesehatan, dari penyedia hotel, transportasi serta stakeholder pendukung lainnya,” terang John Kennedi.

Pariwisata di Jatim

Wisata Gunung Bromo adalah 1 dari sekitar 600 destinasi wisata yang sudah buka dan beroperasi hingga akhir September 2020 sejak ditutup total pada Maret 2020 karena pandemi Covid-19.

Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Provinsi Jatim Sinarto mengakatakan, hingga September 2020, sudah 60 persen dari total 969 destinasi wisata di Jatim yang sudah buka dan beroperasi.

“Alhamdulillah sudah 60 persen destinasi di Jatim yang buka. Pergerakan wisatawan lokal terus naik di angka 2,4 juta, sementara okupansi hotel sampai 70 persen,” katanya.

Menurut Sinarto, kebanyakan destinasi wisata yang sudah buka dan beroperasi adalah wisata alam. Sementara wisata buatan, masih sedikit yang buka dan beroperasi karena masih menyesuaikan dengan kebijakan satuan tugas penanganan Covid-19 daerah setempat.

“Meski daerahnya zona orange, tapi kalau pengelola dan pemerintah daerahnya punya komitmen menegakkan protokol kesehatan, bisa saja destinasi dibuka, karena wewenang membuka destinasi adalah wewenang pemerintah daerah,” jelasnya. 

#Serunya #Berburu #Sunrise #Titik #Tertinggi #Gunung #Bromo #Walau #Suhu #Derajat #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts