Sebut “Islam dalam Krisis”, Presiden Macron Tuai Kecaman Umat Muslim di Media Sosial Halaman all

  • Whatsapp
banner 468x60

PARIS, KOMPAS.com – Presiden Emmanuel Macron telah mengumumkan sebuah rencana untuk membela nilai-nilai sekuler Perancis terhadap apa yang dia sebut sebagai ” radikalisme Islam”.

Read More

banner 300250

Macron mengatakan bahwa agama Islam itu “dalam krisis” di seluruh dunia, memicu reaksi balik dari para aktivis Muslim.

Dalam pidatonya yang telah lama ditunggu pada Jumat (2/10/2020), Macron menegaskan “tidak ada konsesi” yang akan dibuat dalam upaya baru untuk mendorong agama keluar dari pendidikan dan sektor publik di Perancis.

“Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia saat ini, kami tidak hanya melihat ini di negara kami,” katanya, seperti yang dilansir dari Al Jazeera pada Jumat (2/10/2020).

Dia mengumumkan bahwa pemerintah akan mengajukan RUU pada Desember untuk memperkuat undang-undang 1905 yang secara resmi memisahkan gereja dan negara di Perancis.

Langkah-langkah tersebut, kata Macron, ditujukan untuk mengatasi masalah tumbuhnya “radikalisasi” di Perancis dan meningkatkan “kemampuan kami untuk hidup bersama”.

“Sekularisme adalah semen dari persatuan Perancis,” dia menegaskan, tetapi menambahkan bahwa tidak ada gunanya menstigmatisasi semua Muslim yang beriman.

Undang-undang mengizinkan orang untuk menganut agama apa pun yang mereka pilih, kata Macron, tetapi tampilan luar dari afiliasi keagamaan akan dilarang di sekolah dan layanan publik.

Mengenakan jilbab sudah dilarang di sekolah-sekolah Perancis dan pegawai negeri juga dilarang memakainya di tempat kerja mereka.

Pidato Macron tersebut menyebabkan perdebatan di media sosial.

Yasser Louati, seorang aktivis Muslim Perancis, menulis di Twitter, “Penindasan terhadap Muslim telah menjadi ancaman, sekarang itu adalah janji.

“Dalam pidato 1 jam #Macron, menguatkan sayap kanan, anti-Muslim kiri, dan mengancam kehidupan siswa Muslim dengan menyerukan pembatasan drastis pada home schooling, meski pun pandemi global,” lanjutnya.

Rim-Sarah Alaoune, seorang akademisi Perancis, mengatakan dalam Twitter, “Presiden Macron menggambarkan Islam sebagai ‘agama yang mengalami krisis di seluruh dunia saat ini’. Aku bahkan tidak tahu harus berkata apa. Pernyataan ini sangat bodoh (maaf), sehingga tidak memerlukan analisis lebih lanjut.”

“Saya tidak akan menyembunyikan bahwa saya khawatir. Tidak disebutkan supremasi kulit putih, meski pun kita adalah negara yang mengekspor teori rasis dan supremasi kulit putih tentang ‘perubahan besar’, yang digunakan oleh teroris yang melakukan pembantaian mengerikan di #Christchurch.”

Iyad el-Baghdadi, penulis dan aktivis yang tinggal di Norwegia, hanya menulis di Twitter, “F*** you, @EmmanuelMacron.”

Dalam pidatonya, Macron juga mengklaim sedang berusaha untuk “membebaskan” Islam di Perancis dari pengaruh asing dengan meningkatkan pengawasan pembiayaan masjid.

Selain itu, juga akan ada pengawasan lebih dekat terhadap sekolah dan asosiasi yang secara eksklusif melayani komunitas agama.

Perancis sekali lagi mengevaluasi hubungannya dengan minoritas Muslimnya, yang terbesar di Eropa.

Bulan lalu, seorang anggota parlemen Perancis dari partai Macron, La Republique En Marche, melakukan pemogokan atas kehadiran seorang pemimpin serikat mahasiswa berjilbab dalam sebuah pemeriksaan parlemen.

Sepekan sebelumnya kejadian tersebut, terjadi polemik lain, yang melibatkan seorang jurnalis Perancis yang me-retweet postingan seorang influencer Muslim muda.

Ia membahas tentang memasak dengan anggaran terbatas dengan judul “11 September”, mengacu pada serangan berdarah pada 2001 di World Trade Center di New York.

Sementara, pidato Macron pada Jumat ini terjadi sapekan setelah seorang pria menyerang 2 orang dengan pisau daging di luar bekas kantor majalah mingguan satir, Charlie Hebdo di Paris.

Serangan itu dikutuk oleh pemerintah sebagai tindakan “terorisme Islam”.

Staf di Charlie Hebdo dibunuh pada Januari 2015 oleh orang-orang bersenjata yang berusaha membalas dirilisnya karikatur Nabi Muhammad.

Anggota komunitas Muslim di Perancis secara konsisten mengecam tindakan perilisan karikatur Nabi Muhammad, menggambarkannya sebagai tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.


#Sebut #Islam #dalam #Krisis #Presiden #Macron #Tuai #Kecaman #Umat #Muslim #Media #Sosial #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts