Rencana Jepang Buang Jutaan Ton Air Limbah Nuklir ke Laut, Apa Dampaknya?

  • Whatsapp
banner 468x60

KOMPAS.com – Kebocoran reaktor nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima menjadi bencana nuklir hebat di Jepang pada tahun 2011 silam.

Read More

banner 300250

Kini pemerintah Jepang menghadapi kontroversi terkait bagaimana cara membuang 1,23 juta metrik ton air yang disimpan di pabrik itu.

Air ini dinilai berbahaya karena mengandung isotop radioaktif karbon-14 serta mengandung radionuklida.

Bisa mengubah DNA manusia

Organisasi Lingkungan Greenpeace memperingatkan bahwa melepaskan air dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi yang terkontaminasi ke laut menimbulkan risiko.

Sebab air tersebut mengandung karbon radioaktif yang berpotensi mengubah dan merusak DNA manusia.

Selain itu juga memberikan konsekuensi jangka panjang serius bagi masyarakat dan lingkungan jika sampai dilepaskan ke Samudera Pasifik.

Dikutip dari CNN, guna mendinginkan inti bahan bakar di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima yang rusak, Tokyo Electric Power Company (TEPCO) memompa ribuan ton air selama bertahun-tahun.

Setelah digunakan, air tersebut disimpan.

Namun setelah bertahun-tahun semenjak bencana nuklir terburuk di Jepang itu berlalu, kini ruang penyimpanan air tersebut hampir habis.

Pemerintah Jepang sampai saat ini belum memutuskan apa yang akan dilakukan dengan air tersebut.

Pihak berwenang termasuk Menteri Lingkungan Negara Jepang menilai satu-satunya solusi adalah melepaskan air tersebut ke laut.

Ditentang

Namun rencana ini ditentang banyak pihak yang mengampanyekan lingkungan dan Perwakilan Industri Perikanan.

Pada hari Jumat (23/10/2020) Jepang akhirnya menunda keputusan tentang apa yang akan dilakukan dengan air itu.

“Untuk menghindari keterlambatan proses dekomisioning Fukushima Daiichi, kami perlu membuat keputusan bagaimana menangani air olahan yang meningkat setiap hari,” kata Menteri Perindustrian Hiroshi Kajiyama.

Hari Jumat, Greenpeace merilis pernyataan yang mengatakan air selain mengandung isotop radioaktif tritium, juga mengandung isotop radioaktif karbon-14, yang merupakan penyumbang utama dosis radiasi manusia secara kolektif dan berpotensi merusak DNA manusia.

Shaun Burnie penulis laporan dan spesialis nuklir senior di Greenpeace Jerman mengatakan, mungkin ada total 63,6 GBq (gigabecquerels) karbon-14 di dalam tangki.

“Ini, bersama dengan radionuklida lain di dalam air akan tetap berbahaya selama ribuan tahun dengan potensi menyebabkan kerusakan genetik. Itu satu lagi alasan mengapa rencana ini harus ditinggalkan,” kata Burnie.

Diklaim aman

Namun, Ryonosuke Takanori seorang Juru Bicara TEPCO mengatakan karbon-14 yang terkandung dalam air yang diolah sekitar 2 hingga 220 becquerel per liter sehingga aman.

“Bahkan jika air terus diminum sebanyak 2 liter setiap hari, paparan tahunan sekitar 0,001 hingga 0,11 millisieverts, yang bukan merupakan tingkat yang mempengaruhi kesehatan,” kata Takanori.

Ia menilai keselamatan produk kesehatan, lingkungan dan perikanan di sekitar kawasan itu dinilai tetap terjamin karena langkah-langkah yang sesuai telah diambil dengan ketentuan hukum.

TEPCO sendiri mengatakan akan melakukan pengolahan sekunder agar standar pembuangan selain tritium dan bahan radioaktif termasuk karbon-14 dapat dikurangi sebanyak mungkin.

Sementara itu seorang pengamat Claire Corkhill di Universitas Sheffied Inggris mengatakan tritium telah banyak dilepaskan ke laut oleh negara-negara di seluruh dunia.

Adapun dampak yang terjadi menurutnya rendah terhadap organisme.

Ia juga mengatakan jumlah yang dibuang berdasarkan permodelan ilmiah menunjukkan tingkat isotop yang akan dibuang berada dalam batas yang masih dianggap aman oleh Jepang.

Risiko sampai rantai makanan

Adapun Corkhill mengatakan air yang terkontaminasi saat ini menjadi perhatian yang mendesak.

Apabila pemerintah Jepang tidak menanganinya dengan baik maka berjuta-juta meter kubik air radioaktif semuanya berpusat di situs Fukushima.

Sementara itu, Francis Livens seorang Profesor Radiokimia di Universitas Manchester mengatakan setiap pelepasan radioaktif akan membawa risiko lingkungan dan kesehatan.

Risiko ini akan berbeda-beda tergantung seberapa banyak karbon 14 yang akan dilepas ke laut.

“Orang-orang telah membuang karbon-14 ke laut selama bertahun-tahun. Semuanya tergantung pada berapa banyak yang ada, berapa banyak yang tersebar, apakah ia memasuki rantai makanan laut dan menemukan jalan kembali ke manusia?” kata Livens


#Rencana #Jepang #Buang #Jutaan #Ton #Air #Limbah #Nuklir #Laut #Apa #Dampaknya

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts