Pengalaman Menarik Minum Kopi, Ada yang Rela Asam Lambung Demi Minum Kopi Halaman all

  • Whatsapp
banner 468x60

KOMPAS.com – Menikmati kopi menjadi momen yang begitu dinikmati pencinta kopi. Dari sini, muncul beragam cerita pengalaman menarik ketika minum kopi.

Read More

banner 300250

Pengalaman yang dimaksud seperti tidak bisa tidur gara-gara minum robusta, nekat minum kopi sampai asam lambung, dan masih banyak lagi.

Minum kopi menjadi gaya hidup yang bagi sejumlah masyarakat Indonesia. Pasalnya, Indonesia menawarkan kopi berkualitas nan nikmat, mulai dari Flores Bajawa, Aceh Gayo, Lampung, Bali Kintamani, sampai Papua Wamena.

Berikut penuturan pencinta kopi yang membagikan pengalaman menariknya ketika minum kopi. Selain itu, ada juga cerita tentang pengalaman menjelajah rasa racikan kopi.

Lydia (23) menceritakan kepada Kompas.com, kesehariannya yang selalu minum kopi di pagi hari untuk melancarkan pencernaannya.

“Hampir setiap saat (minum kopi). Bangun pagi kalau gak bisa BAB, siang kalo ngantuk, dan sore sambil menikmati senja. Tapi sehari aku batasin 2x aja,” jelasnya kepada Kompas.com, Rabu (30/9/2020).

Ia juga sering kali berkreasi membuat kopi sendiri di rumah. Sebab dengan membuat kopi sendiri dan ternyata rasanya enak, menyimpan kepuasan tersendiri bagi dirinya.

“Aku coba-coba kombinasiin sama bahan-bahan lain yang belum pernah ada dan hasilnya enak, itu seneng banget. Soalnya berasa menciptakan mahakarya yang sukses. Tapi kalau gak enak ya tetep seneng si soalnya kan bikinan sendiri yak tetep aja diminum,” tambah Lydia.

Ia pun pernah berkreasi mencampurkan kopi dengan air kelapa segar. Lydia mencampurkan kopi arabica Kintamani dengan air kelapa.

“Rasanya aneh soalnya asem dari kopinya ngalahin si air kelapa tapi tetep ada rasa kelapanya gitu. Terus ada juga kopi bubuk biasa campur pandan dan susu itu enak rasanya soalnya kayak ada aromanya pandang yang khas,” jelasnya.

SHUTTERSTOCK/STOCKPHOTOVIDEO Ilustrasi barista sedang mencicipi kopi dalam coffee cupping.

Kemudian juga ada cerita dari Albert (23), saat ia sedang belajar membuat kopi ia bisa menghabiskan 10-15 gelas kopi sehari.

“Karena pas itu gua lagi belajar, temen gua ngajarin gak pake bayaran, syaratnya cuman satu, Setiap kopi yang gue bikin gagal atau engga, harus diminum,” jelas Albert Supargo kepada Kompas.com.

Dari pengalaman tersebut ia sampai harus menanggung sakit karena terlalu banyak minum kopi.

“Nah pernah di zaman itu, gue sampe kaya orang ayan gitu gara-gara kebanyakan ngopi wkwk,” tambahnya.

Albert mengaku kopi favoritnya adalah single origin yang berasal dari kawasan Sumatra, terutama Kayu Aro dan Sipirok.

“Kebetulan kopi-kopi Sumatera lebih cocok di lidah gw, kalo digeneralisasi rasanya cenderung kuat sama ada sedikit rasa rempah gitu,” jelasnya.

Selain itu juga ada Yeski (27), pencinta kopi satu ini mengaku bahwa dirinya memiliki riwayat penyakit asam lambung. Namun ingin menikmati kopi favoritnya.

“Aku penggemar Yellow Caturra, bisa minum pagi, siang, sore. Jadi walaupun asamnya enggak terlalu tinggi tapi bisa asam lambungku langsung tinggi,” jelas Yeski.

Ia menceritakan, suatu hari ia terlalu banyak minum kopi dan keesokan harinya asam lambungnya sangat tinggi sampai harus dilarikan ke rumah sakit.

“Iya hahaha, tapi besoknya aku tetep minum kopi, karena itu sudah jadi rutinitas yang gak bisa dihapus,” jelasnya.

Carita dan pengalaman minum kopi lainnya datang dari Yerry (25), ia mengaku gemar mengonsumsi kopi asal Banyuwangi.

“Sejauh ini masih suka kopi Banyuwangi, ada jenisnya kopi mutiara. Bijinya lebih kecil daripada kopi biasanya. Rasanya enggak terlalu pahit tapi wangi dan bisa ada rasa cokelatnya dikit di belakang belakang,” jelasnya.

Ia juga menceritakan mengenai pengalamnnya yang kurang menyenangkan setelah minum kopi di tengah berjuang menyelesaikan skripsi.

“Pernah waktu skripsi kebanyakan minum kopi sampai asam lambung naik jantung berdebar hahahaha. Tapi konon saya belajar dari petani kopi kalau kopi yang asli efek ke asam lambungnya jauh lebih sedikit,” ujar Yerry.

Wisatawan yang berkeliling Pasar Bolu juga bisa berburu kopi toraja, baik dalam bentuk biji kopi maupun bubuk yang telah digiling.KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Wisatawan yang berkeliling Pasar Bolu juga bisa berburu kopi toraja, baik dalam bentuk biji kopi maupun bubuk yang telah digiling.

 

Cerita lain datang dari Citra (23), ia memulai minum kopi karena sang ayah. Perempuan asal Toraja ini, dekat dengan sumber kopi jenis Toraja. Dalam kesehariannya, ia sering menikmati jenis kopi ini.

“Cuma kan aku asalnya dari Toraja jadi lebih sering dan terbiasa minum kopi Toraja. Aku dulu pernah cobain kopi dari utophia, menurutku itu rasanya unik banget. Terus kan ada ceremonial-nya dulu baru bisa minum kopi itu. Aku juga ikutin tuh. Beda dan unik sih menurutku,” paparnya.

Disya (26), juga membagikan pengalaman ngopinya kepada Kompas.com. Ia penggemar biji kopi yang punya tingkat keasamannya tinggi dan rasanya bervolume.

After taste-nya juga enggak pahit, jadi harus ada flavor tersendiri tiap biji kopi. Saat ini, aku selalu ambil Aceh Gayo, Toraja. Karena tingkat asamnya tinggi, tapi ringan. Enggak terlalu manis itu juga menjadi poin utama,” jelas Disya.

Ia juga memaparkan bahwa kopi buatan para barista memiliki cita rasa berbeda. Setiap barista punya hasil seduhan yang tidak sama.

Disya menyatakan kalau seorang barista semakin berbakat dan terampil, maka hasil kopi seduhannya lebih enak.

#Pengalaman #Menarik #Minum #Kopi #Ada #yang #Rela #Asam #Lambung #Demi #Minum #Kopi #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts