Pendemo Tidak Tahu Substansi yang Diperjuangkan

  • Whatsapp
pendemo tidak tahu
pendemo tidak tahu
banner 468x60

Demo UU Cipta Kerja berakhir ricuh di tengah pandemi. Selain ditemukan masyarakat yang ternyata positif COVID-19 di tengah pendemo, rupanya ada yang cukup mengenaskan. Yakni, rata-rata pendemo tidak tahu substansi atau apa yang hendak dibela oleh mereka saat turun ke lapangan.  

Demo nasional yang berlangsung 6-8 Oktober 2020 lalu dimotivasi atas penolakan UU Cipta Kerja. Bahkan gelombang demo kembali berlangsung pada Selasa (13/10/2020). Ormas FPI, GNPF, dan PA 212 menggelar demo 1310 di depan Istana Negara. Selain itu, ada pula demo yang diadakan oleh SPN (Serikat Pekerja Nasional ) yang berasal dari Morowali, Sulawesi Tengah. Serupa, mereka menggugat UU Ciptaker serta ditambahkan protes kepada perusahaan di kawasan industri Morowali mengenai beberapa peraturan perusahaan.

Read More

banner 300250

Presiden Joko Widodo telah menanggapi aksi demo terkait UU Ciptaker. Dirinya menilai, aksi tersebut ada lantaran beredarnya informasi hoax yang bertebaran di masyarakat. Dia meyakini UU tersebut tidak akan membebani masyarakat serta tidak memiliki keberpihakan. 

“Saya melihat adanya unjuk rasa, penolakan Undang-undang Cipta Kerja yang pada dasarnya dilatarbelakangi oleh disinformasi mengenai substansi dari undang-undang ini dan hoax di media sosial,” ucapnya dalam konferensi pers secara elektronik dari Istana Bogor, Jumat (9/10/2020).

Temuan di lapangan bahkan menemukan pendemo tidak tahu UU Ciptaker substansi apa yang hendak disuarakan. Menurut Pangdam Jaya Mayjen TNI, Dudung Abdurachman, pihaknya bahkan berhasil menyekat 100 lebih preman dan pengangguran yang hendak ikut aksi demo nasional UU Ciptaker. Kodam Jaya menyebut, massa dari luar kota seperti Subang, Banten, Tangerang, dan Pamanukan ini hendak berunjuk rasa karena dijanjikan uang imbalan. 

Dudung menambahkan, preman yang telah ditangkap hendak demo nasional UU Ciptaker tersebut rata-rata tidak sekolah. “Justru tidak ada buruh, semua preman dan pengangguran. Mereka mendapat instruksi dari grup WhatsApp yang mereka ikuti. Penggerak massa menjanjikan uang yang diberikan setelah demo. Pendemo tidak tahu apa yang sebenarnya mereka bela waktu turun ke jalan,” ujarnya. 

Demo yang dimotori oleh modal semata dan berujung pada kekerasan, apakah ini yang Anda kehendak, tuan dan puan? Memanfaatkan manusia untuk menggulingkan rezim semata, di tengah wabah COVID-19 yang belum berkesudahan. Adakah secuil empati Anda, untuk memberikan kepercayaan bahwa UU Ciptaker adalah usaha pemerintah untuk ‘menyembuhkan’ Indonesia pada sektor ekonomi serta kesehatan?

Related posts