Lewati 300.000, Kasus Covid-19 di Indonesia Bertambah 50.000 dalam 11 Hari Halaman all

  • Whatsapp
banner 468x60

KOMPAS.com – Pemerintah RI kembali mengumumkan 3.992 kasus baru virus corona yang terjadi di Indonesia, Minggu (4/10/2020).

Read More

banner 300250

Dengan demikian, jumlah total kasus Covid-19 saat ini telah melewati angka 300.000, tepatnya 303.498 kasus.

Penambahan jumlah kasus dalam beberapa waktu terakhir pun menunjukkan bahwa laju kecepatan penyebaran virus semakin cepat.

Menurut keterangan yang diterima Kompas.com dari Pandemic Talks, Minggu (4/10/2020), Indonesia hanya membutuhkan waktu 11 hari untuk melewati angka 300.000 kasus dari 250.000 kasus.

Waktu dan jumlah penambahan kasus

Berikut adalah pertumbuhan kasus yang Indonesia setiap 50.000 kasus yang dirangkum oleh Pandemic Talks:

  • 2 kasus ke 50 ribu kasus: 115 hari (2 Maret-25 Juni)
  • 50 ribu kasus ke 100 ribu kasus: 32 hari (26 Juni-27 Juli)
  • 100 ribu kasus ke 150 ribu kasus: 26 hari (28 Juli-22 Agustus)
  • 150 ribu kasus ke 200 ribu kasus: 17 hari (23 Agustus-8 September)
  • 200 ribu kasus ke 250 ribu kasus: 13 hari (9 September-22 September)
  • 250 ribu kasus ke 300 ribu kasus: 11 hari (23 September-4 Oktober)

Berdasarkan data tersebut, ditunjukkan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk mencapai 50 ribu kasus semakin memendek dari waktu ke waktu. 

“Padahal jumlah tes per hari rerata sepekan terakhir stagnan di 27.000 tes per orang per hari,” tulis Pandemic Talks.

Kasus kematian dan tingkat kesembuhan

Selain jumlah kasus baru, Indonesia juga kembali mencatatkan 96 kasus kematian baru, sehingga jumlah total kasus kematian yang telah terjadi menjadi sebanyak 11.151 kasus.

Dari segi jumlah kasus kematian, Indonesia berada di posisi ke-17 di dunia.

“Itu pun baru jumlah kematian yang terkonfirmasi positif. Jika kematian sebenarnya sesuai standar WHO atau data RS online di Indonesia seharusnya sudah ada lebih dari 25 ribu kematian akibat Covid-19,” kata analis data yang juga merupakan salah satu inisiator Pandemic Talks, Firdza Radiany kepada Kompas.com, Minggu (4/10/2020).

Sementara, terkait tingkat kesembuhan, Firdza menilai bahwa itu bukan hal yang seharusnya dibanggakan jika dibandingkan negara-negara lain.

Beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi menyoroti soal tingkat kesembuhan pasien Covid-19 di Indonesia yang disebut tinggi, yaitu sebesar 74 persen.

“Seharusnya juga yang dibanggakan bukan tingkat kesembuhan 74 persen. Indonesia dibanding negara ASEAN juga kalah tingkat kesembuhannya. Misalnya dibandingkan Malaysia dan Singapura yang tingkat kesembuhannya mencapai 90 persen,” jelasnya.

Menurut dia, pandemi Covid-19 ditentukan oleh bisa tidaknya pemerintah dan masyarakat:

  • Menekan mobilitas penduduk sampai dengan 80 persen untuk menekan penyebaran virus
  • Penduduk teredukasi dengan baik agar 80 persen penduduk selalu menggunakan masker 

“Menghentikan pandemi adalah menghentikan penyebaran virus, bukan lomba tingkat kesembuhan atau banyak-banyakan yang sembuh,” ujar Firdza.

Menghentikan penyebaran virus

Pihaknya berpendapat, banyaknya pasien sembuh tidak akan berdampak signifikan apabila penyebaran virus tidak dihentikan.

“Masih akan semakin banyak yang sakit, rumah sakit penuh, dan tenaga medis kelelahan dan semakin banyak yang meninggal,” lanjutnya.

Firdza menjelaskan, karena esensi pandemi adalah menghentikan penyebaran virus, maka indikator-indikator utama pandemi adalah testing massal, tracing massal (pelacakan dan isolasi), menurunkan positivity rate, dan menurungkan tingkat kematian.

“Jadi bukan banyaknya yang sembuh atau tingkat kesembuhan,” tambahnya.

“Bahkan dalam persentase yang dibanggakan, Indonesia berada jauh di bawah rata-rata dunia,” lanjutnya.

Seperti diketahui, tingkat kesembuhan secara global dari virus corona adalah sebesar 96 persen.


#Lewati #Kasus #Covid19 #Indonesia #Bertambah #dalam #Hari #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts