Buah Manis Usaha Suku Bajau Jaga Hutan Bakau untuk Anak Cucu Halaman all

  • Whatsapp
banner 468x60

GORONTALO, KOMPAS.com – Jelang senja, kawanan burung kuntul kecil (Egretta garzetta) terbang menuju rerimbunan hutan bakau di pesisir Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo.

Read More

banner 300250

Burung-burung ini secara mencolok terbang rendah sebelum hingga di balik pucuk-pucuk bakau.

Hutan bakau ini tidak hanya menjadi rumah bagi kuntul kecil, burung lain yang memiliki habitat di wilayah pesisir dan daratan juga menyukai kawasan ini, termasuk beberapa jenis kelelawar dan satwa lain.

Hutan bakau yang rimbun ini menjadi penjaga masa depan suku Bajau Torosiaje.

Hutan menjadi bagian penting dalam proses kehidupan warga desa, bahkan orang lain pun mendapat manfaat dari kawasan konservasi ini.

Setidaknya para nelayan dapat mencari ikan dengan mudah di sekitar desa.

“Kami biasa mencari ikan di pinggir hutan sekitar desa, tidak perlu jauh-jauh,” kata Una, perempuan warga Torosiaje.

Kawasan hutan bakau ini tumbuh sehat tidak datang begitu saja.

KOMPAS.COM/ROSYID A AZHAR Para ojek laut melintasi kawasan bakau untuk mengantar warga Torosiaje yang ingin ke darat atau sebaliknya.

Namun ada perjuangan panjang menjaga kawasan ini oleh Kelompok Sadar Lingkungan (KSL) Paddakauang lebih dari 15 tahun.

Kelompok Paddakauang ini merupakan wadah orang Bajau untuk menjaga hutan bakau, karang dan padang lamun ini dipimpin oleh Umar Pasandre (53), seorang nelayan yang mengabdikan diri kepada kelestarian alam.

Bersama orang Bajau lainnya, Umar menjaga 125 hektar hutan bakau yang ada di tiga desa, Torosiaje, Torosiaje Jaya dan Bumi Bahari.

Ketiga desa ini ditinggali oleh suku Bajau, sehingga mereka menyebut desa ini sebagai Desa Bajau Serumpun.

“Awalnya kami tinggal di rumah kayu yang sederhana di atas air laut, seiring perkembangan dan jumlah suku Bajau yang terus bertambah, akhirnya Desa Torosiaje dimekarkan,” kata Umar Pasandre,  Sabtu (3/10/2020).

Kondisi hutan bakau warga bajau serumpun yang subur. Mereka memperjuangkan pelestarian hutan ini untuk kehidupan masa depan yang lebih baik.KOMPAS.COM/ROSYID A AZHAR Kondisi hutan bakau warga bajau serumpun yang subur. Mereka memperjuangkan pelestarian hutan ini untuk kehidupan masa depan yang lebih baik.

Pemekaran desa Torosiaje ini melahirkan desa baru, Torosiaje Jaya yang berada di darat pada 2004.

Pada 2008 Dusun Beringin Jaya di Torosiaje Jaya ini berdiri sebagai desa tersendiri dengan nama Bumi Bahari.

Umar Pasandre menceritakan pada 1960 hingga 1970 banyak warga Bajau yang mengambil karang untuk dijadikan timbunan fondasi rumah mereka. 

Bahkan ada yang mencoba membuat daratan di permukiman mereka. Pengambilan karang ini dilakukan secara masif sehingga banyak merusak gugusan karang.

Pada 8 Oktober 2009, masyarakat Desa Bajau Serumpun secara swadaya mendirikan KSL Paddakauang.

Ini adalah awal mereka secara kolektif melirik lingkungan sebagai daya dukung sumber-sumber penghidupan nelayan.

Kebersamaan ini timbul setelah warga Bajau melihat ada ancaman dan tantangan di sekitar permukiman mereka, daya dukung sumber daya alam semakin kritis.

Siswa sekolah yang tergabung dalam Pramuka dilibatkan dalam penanaman bakau di desa. Mereka akan ingat betapa sulitnya menanam bakau, mereka juga akan menjaganya.KOMPAS.COM/UMAR PASANDRE Siswa sekolah yang tergabung dalam Pramuka dilibatkan dalam penanaman bakau di desa. Mereka akan ingat betapa sulitnya menanam bakau, mereka juga akan menjaganya.

Banyak bakau ditebang untuk keperluan membangun rumah, bahan bakar atau dijual kepada orang lain.

Semakin menurunnya daya dukung lingkungan ini berdampak pada mata pencarian mereka, ikan semakin sulit didapat.

Akhirnya mereka menyadari pemanfaatan sumber daya alam harus mendukung kehidupan warga Bajau hingga anak cucu, tidak hanya bakau, terumbu karang habitat ikan juga harus lestari.

“Pada tahun 2010 kami melalui program Susclam (Sustainable Coastal Livelihoods and Management) melakukan penanaman bakau seluas 5 hektar, ini awal PSL Paddakauang melaksanakan penghijauan,” tutur Umar Pasandre.

Suclam atau Tomini Bay Sustainable Coastal Livelihoods and Management merupakan program yang bertujuan untuk menguatkan pengelolaan ekosistem Teluk Tomini yang lestari dalam kerangka untuk meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir.

Foto dirilis Senin (7/9/2020), memperlihatkan ratusan ikan berenang di sekitar permukiman Suku Bajau di Desa Torosiaje. Suku Bajau terkenal sebagai suku pengembara laut dan nelayan ulung dalam mencari ikan, yang kental menjaga budaya leluhur seperti tradisi, ritual dan pantangan.ANTARA FOTO/ADIWINATA SOLIHIN Foto dirilis Senin (7/9/2020), memperlihatkan ratusan ikan berenang di sekitar permukiman Suku Bajau di Desa Torosiaje. Suku Bajau terkenal sebagai suku pengembara laut dan nelayan ulung dalam mencari ikan, yang kental menjaga budaya leluhur seperti tradisi, ritual dan pantangan.

Menanam bakau itu tidak mudah, apalagi di lakukan di daerah yang penuh lumpur, licin dan digenangi air.

Setelah itu juga perlu dijaga agar bibit bisa tumbuh sehat, jika ada yang mati perlu dilakukan penyulaman.

Menjaga dan merawat bakau muda ini sepeti mengasuh anak, dilakukan penuh dedikasi oleh warga Bajau.

Sambil bersampan mereka membawa bibit anakan bakau untuk disulamkan mengganti bibit yang mati.

Perjuangan memulihkan ekosistem perairan ini tidak mudah, bahkan niat untuk merawat kawasan hutan bakau ini berhadapan dengan upaya penebangan yang dilakukan oleh orang tertentu untuk dijadikan tambak seperti di wilayah lain di daerah ini.

Tambak udang atau bandeng memang sedang bersinar di Pohuwato.

Umar Pasandre, Ketua kelompok sadar lingkungan PaddakauangKOMPAS.COM/IST Umar Pasandre, Ketua kelompok sadar lingkungan Paddakauang

Bujuk rayu yang halus hingga ancaman kekerasan fisik diterima oleh KSL Paddakauang, tapi itu tidak menyurutkan mereka untuk terus melanjutkan keinginan mereka memiliki hutan desa yang subur dan hijau.

Hutan bakau bagi masyarakat Bajau adalah pendukung sumber penghidupan mereka.

Di hutan ini ekosistem laut akan terjaga, menyediakan ruang bagi ikan dan mata rantai makanannya untuk berkembang biak.

Iming-iming uang besar sudah biasa diterima agar mereka mau membabat hutan bakau, tapi itu tidak membuat pendirian mereka berubah.

Tahun 2009-2010 adalah marak-maraknya pembabatan hutan bakau untuk dijadikan tambak.

Bahkan hutan bakau Cagar Alam Tanjung Panjang yang jelas-jelas dijaga oleh aparat negara yang tidak jauh dari Desa Torosiaje mengalami nasib tragis, lebih dari 80 persen dibabat habis.

Bagi warga kelompok KSL Paddakauang perjuangan konservasi bukan semata-mata dinilai dengan uang, yang utama adalah membangun kebersamaan antar warga Bajau bukan kepentingan jangka panjang, menjaga bakau tetap lestari dinilai lebih bermanfaat.

Akhirnya satu persatu oknum tertentu diam, tidak lagi mengumbang iming-iming.

“Tahun 2011 kami kerja sama dengan masyarakat nelayan untuk menanam bakau seluas 2 hektar, tahun berikutnya kami mengelola Kebun Bibit Rakyat (KBR) kerja sama dengan BPDASHL Bone Bolango seluas 10 hektar,” ujar Umar Pasandre.

BPDASHL merupakan kepanjangan dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung.

Dua orang wanita bajau mengangkut air bersih dengan perahu tradisional dari daratan ke perkampungan mereka yang melintasi hutan bakau. Mereka adalah wanita tangguh yang menjalani hidup di perkampungan di atas laut.KOMPAS.COM/ROSYID A AZHAR Dua orang wanita bajau mengangkut air bersih dengan perahu tradisional dari daratan ke perkampungan mereka yang melintasi hutan bakau. Mereka adalah wanita tangguh yang menjalani hidup di perkampungan di atas laut.

Keinginan untuk memiliki hutan bakau yang sehat terus menggeliat setelah banyak lembaga lain yang mendukung KSL Paddakauang.

Kemitraan ini menambah rasa percaya diri warga Bajau yang sehari-hari mengakrabi laut.

Kisah dan pengalaman sukses suku Bajau Torosiaje ini kemudian dibagikan kepada kelompok nelayan lainnya.

Mereka diminta untuk melakukan pendampingan KBR di Desa Trikora Kecamatan Popayato seluas 10 hektar.

Pada 2014, program Mangrove For Future (MFF) juga menyentuh Desa Torosiaje dengan melakukan penanaman bibit seluas 10 hektar.

Dalam tahun yang sama KSL Paddakauang bekerja sama dengan Pusat Kajian Ekologi Pesisir berbasis Kearifan Lokal  (PKEPKL) Universitas Negeri Gorontalo di program MFF menanam bakau yang melibatkan mahasiswa seluas 7,5 hektar.

“Pada 2015 bekerja sama dengan Japesda-BPSPL Makassar menanam bakau seluas 20 hektar. Tahun-tahun berikutnya kami juga bekerja sama dengan The Siemenpuu Foundation, BPDASHL, juga komunitas dan kegiatan sporadic bersama tamu yang datang ke desa kami,” ujar Umar Pasandre.

Umar Pasandre menjelaskan, upaya kelompok warga Bajau ini dilakukan sebagai wujud pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan seperti menjaga terumbu karang dan padang lamun dari gangguan masyarakat dan ancaman alam.

Usaha keras suku Bajau untuk melestarikan hutan bakau ini berbuah, Pemerintah telah menetapkan hutan mereka sebagai Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Mangrove Torosiaje Serumpun.

Di kawasan yang hijau ini tumbuh bangkau lila (Rhizophora mucronata), bangkau dinda (Rhizophora stylosa), bangkau dinda (Rhizophora apiculata), tingar (Ceriops tagal), munto (Bruguiera sp), papa (Sonneratia sp), tatambu (Xylocarpus sp), murite atau ngea (Lumnitzera sp), dan apaapi (Avicennia sp).

Orang Bajau mengenal dengan baik kepiting dan udang yang hidup di kawasan bakau ini, mereka menyebut ada karama samo, karama gitang, karama bobo, balo, kankayo, doa windu, dan kalora.

Juga ragam jenis ikan yang menjadi tangkapan nelayan tidak jauh dari hutan bakau, daya baba, bialues, bera, daya tana, kiapu, tanjulu, timbaloa bangkau, ingatang, babanda, bobonte, bobonte bangkau, sumpitang, pangaluang, dan masih banyak jenis ikan yang menjadi komoditas para nelayan.

Masyarakat Bajau Torosiaje sekarang dapat membanggakan desanya.

Mereka memiliki hutan bakau yang menjadi tempat berpijah sejumlah ikan, juga rumah bagi para burung dan satwa lainnya.

Harmoni alam ini terbentuk melalui kerja keras, jalinan kemitraan dan kebersamaan warga.

Umar Pasandre dan warga desa Bajau serumpun kini mulai senang.

Kawasan hutan bakau di desa mereka telah memiliki perlindungan dari pemerintah secara khusus.

Mereka tidak lagi kucing-kucingan dengan orang yang akan membabat hutan ini.

#Buah #Manis #Usaha #Suku #Bajau #Jaga #Hutan #Bakau #untuk #Anak #Cucu #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts