Sejarah Kuliner Indonesia Jadi Populer di Belanda, Gara-gara Koran?

  • Whatsapp
banner 468x60

KOMPAS.com – Belanda telah datang ke Nusantara pada abad ke-16 untuk mencari rempah. Beberapa abad kemudian, orang Belanda terpengaruh kebiasaan makan orang Indonesia.

Read More

banner 300250

“Sebagian komunitas di Belanda secara rutin makan sajian khas East Indische (Indonesia masa kolonialisme) pada abad ke-19. Orang-orang Belanda tinggal di kota besar di East Indische,” kata Prima Nurahmi Mulyasari, M.A., Indonesian Institute of Sciences (LIPI)

Hal itu ia ungkapkan kala menjadi pembicara dalam webinar International Forum on Spice Route 2020 sesi Spice Route: A Southeast Asian Perspective, Selasa (22/9/2020).

“Di tahun 1930-an ada sekitar 12.000 orang Belanda yang lahir di Dutch East Indische. Setelah mereka kembali ke Belanda, mereka terus memasak dan makan sajian khas daerah koloni mereka,” sambung dia.

PIXABAY/MONICORE ilustrasi rempah

Sejarah keberadaan restoran Indonesia di Belanda telah cukup lama berlangsung. Salah satu restoran Indische pertama dibangun oleh Vereeniging Oost En West (East and West Association) di The Hague, Belanda.

Indische sendiri merupakan sebutan Indonesia pada masa kolonial Belanda.

Mereka mulai memperkenalkan sajian khas Dutch East Indies. Sajian tersebut merupakan makanan Indonesia masa kolonial, sekitar 1900-an.

Mereka menyajikan rijsttafel pada anggota klub dan pengunjung. Berangsur-angsur asosiasi tersebut berubah jadi restoran seutuhnya.

Dalam dua dekade selanjutnya, semakin banyak restoran Indische bermunculan. Salah satu penyebabnya, orang Belanda kelahiran Nusantara kembali ke Belanda.

Ilustrasi nasi goreng telur Indonesia. SHUTTERSTOCK/PRAMATA Ilustrasi nasi goreng telur Indonesia.

Kebiasaan makan orang Belanda berbeda dengan orang Indonesia. Mereka tak terbiasa dengan beras. Sementara makanan pokok orang Indonesia adalah beras.

Hal ini sempat menjadi halangan untuk mempopulerkan hidangan Indonesia di Belanda.

Namun akhirnya pada 1919 sebuah koran menampilkan resep nasi goreng di edisi mereka. Dengan daftar bahan dan bumbu seperti ketumbar, jinten, laos, serai, dan terasi.

Hal yang sama terjadi setelah Perang Dunia II selesai. Belanda mengalami perubahan besar-besaran dan makanan Indonesia jadi semakin populer.

“Margriet, sebuah majalah wanita dengan pelanggan terbanyak di Belanda mulai memasukkan resep makanan China-Indonesia pada awal 1950-an. Hal yang sama juga dilakukan oleh majalah Libelle,” jelas Prima.

Resep masakan China-Indonesia di majalah Margriet terdiri dari enam resep yakni rijs stomen, sajoer kerrie, dendeng atie, sambal, bahmi, dan loempiah.

“Antara 1960-1980, empat resep masakan Indonesia muncul dalam bagian dapur di majalah Margriet. Jumlahnya meningkat antara 1985-2000 di mana 31 resep Indonesia diterbitkan di majalah. Di periode yang sama, resep China muncul 15 kali.”

#Sejarah #Kuliner #Indonesia #Jadi #Populer #Belanda #Garagara #Koran

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts