Murid Kelas 10 Kreasikan Tenun Jadi Fesyen Milenial, Beromzet Ratusan Juta

  • Whatsapp
banner 468x60

KOMPAS.com – Pandemi Covid-19 tak semestinya menghentikan langkah untuk tetap berkarya. Seperti yang dilakukan oleh Zia (15), Murid SMA Kelas 10 Sekolah Cikal itu mampu mengkreasikan kain tenun menjadi fesyen yang menawan bagi kaum milenial.

Read More

banner 300250

Merilis usaha Clothing Line dengan nama “Labitta The Label” di tengah pandemi, murid yang bernama lengkap Andi Azlia Shabirah Labitta Sinjaya menyatakan keinginan untuk melestarikan kain tradisional asal Makassar, kota tempat kelahiran keluarga sang ayah.

“Seiring berjalannya waktu di saat pandemi ini, aku jadi lebih banyak waktu untuk menggali hobi dan potensiku, selain itu aku punya misi untuk melestarikan sebuah kain asal Sulawesi Selatan dari tempat kelahiran keluarga papaku, yang disebut Lagosi,” papar Zia dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Minggu (27/9/2020).

Kain Lagosi sendiri dikenal memiliki corak warna yang unik dan memiliki filosofi yang dalam tentang kehidupan.

Zia yang menyukai fesyen sejak SD, merasa bahwa sebagai bagian dari generasi muda, dirinya memiliki kewajiban untuk melestarikannya.

“Melestarikan dan menjunjung tinggi budaya Indonesia merupakan kewajiban semua orang, dan menurutku, dengan semua yang dimiliki oleh generasi sekarang, teknologi, kecerdasan, keterbukaan pikiran mereka, kita patut memiliki cita dan berkarya,” ucapnya.

Omzet ratusan juta

Dok. Sekolah Cikal Zia (15), Murid SMA Kelas 10 Sekolah Cikal itu mampu mengkreasikan kain tenun menjadi fesyen yang menawan bagi kaum milenial.

Dirilis sejak bulan Mei 2020, Labitta The Label yang digaungkan oleh Zia yang masih berusia 15 tahun ini telah berhasil menjual lebih dari 500 produk dengan omzet ratusan juta rupiah.

Busana semi formal karya Zia ini dikenal memiliki perpaduan yang sangat menarik, antara lain perpaduan warna orange dan hitam yang tampak serasi dan menawan, ada pula paduan warna kuning orange dan merah hati untuk memberikan kesan energik dan modern.

Bagi Zia, ia ingin membuat bentuk yang berbeda dari kain tradisional agar lebih menarik minat masyarakat masa kini, khususnya kalangan muda dan kalangan sosialita.

“Lagosi memang sudah lumayan banyak dipakai orang namun tak banyak yang familiar dengan namanya, dan hanya dipakai dengan model tradisional seperti sarung, baju bodo. Aku ingin kain Lagosi lebih dikenal dengan cara memodelkan kain tersebut ke model yang mungkin lebih modern dan jaman sekarang, agar juga pas dengan minat orang jaman sekarang,” jelas Zia.

Meski kini ia telah menggeluti bisnis fesyen, namun Zia menuturkan tetap menyelaraskan waktu belajar dan berbisnis.

“Aku selalu memiliki waktu 24 jam. Dari 24 jam itu aku selalu berusaha untuk mengaturnya dengan baik, khusus waktu kerja, waktu luang bagi diri sendiri dan sekolah,” pungkasnya.

Generasi muda berkarakter

Kepala Sekolah Cikal Setu Siti Fatimah mengatakan Zia merupakan cerminan dari generasi milenial yang berkarakter, dan tentu sangat merefleksikan hasil pembelajaran bermakna di Sekolah Cikal yang berbentuk personalisasi.

“Zia merupakan salah satu contoh generasi milenial yang memiliki 3 karakter yaitu connected, confident dan kreatif. Selain itu, Ia juga merupakan cerminan hasil pembelajaran di sekolah Cikal, di mana setiap murid memiliki kebutuhan, cara belajar, minat, dan ketertarikan yang berbeda, dan kunci utamanya adalah melakukan proses pembelajaran personalisasi,” papar Siti.

#Murid #Kelas #Kreasikan #Tenun #Jadi #Fesyen #Milenial #Beromzet #Ratusan #Juta

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts