Melihat Masker Terbaik dan Terburuk untuk Perlindungan dari Virus Corona

  • Whatsapp
banner 468x60

KOMPAS.com – Sebelum vaksin virus corona ditemukan, salah satu upaya terbaik untuk menghindari paparan adalah dengan menggunakan masker dan menjaga jarak.

Read More

banner 300250

Selain menggunakan masker dengan benar, jenis masker juga memengaruhi efektivitasnya untuk melindungi dari virus corona.

Trik sederhana untuk mengukur keefektifan masker adalah dengan meniup lilin atau korek api saat memakainya. Masker yang baik akan mencegah api itu padam.

Sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemakaian masker kain beberapa bulan lalu, para peneliti telah mengevaluasi dan menguji bahan terbaik untuk menyaring virus corona.

Masker yang ideal mampu menghalangi tetesan besar pernapasan dari batuk atau bersin serta partikel kecil di udara yang dihasilkan saat berbicara atau bernapas.

Dengan asumsi masker dipakai dengan benar, bahan tertentu secara konsisten berkinerja lebih baik daripada bahan lain dalam beberapa penelitian.

Masker N95

Masker N95 merupakan pelindung paling protektif karena mampu menutup sekitar hidung dan mulut secara rapat, sehingga hanya sedikit partikel virus yang masuk.

Masker ini juga mengandung serat khusus yang mampu menyaring patogen di udara dan memiliki efisiensi minimal 95 persen.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Science Advances beberapa waktu lalu, kurang dari 0,1 persen tetesan ditularkan ketika seseorang berbicara dengan menggunakan masker N95.

Karena ketersediaannya yang terbatas dan efektivitas yang tinggi, masker jenis ini sebaiknya digunakan untuk petugas medis.

Masker bedah

Dibandingkah masker buatan sendiri, masker bedah tiga kali lebih efektif dalam menghambat penularan.

Hasil tersebut berdasarkan studi yang diterbitkan pada 2013 silam di National Center for Biotechnology Information.

Dalam studi itu, dua puluh sukarelawan yang sehat diuji dengan memakai masker dari kain katun.

Jumlah mikroorganisme yang diisolasi dari batuk relawan sehat dengan memakai masker buatan sendiri, masker bedah, atau tanpa masker dibandingkan dengan menggunakan beberapa teknik pengambilan sampel udara.

Hasilnya, masker bedah secara signifikan mengurangi jumlah mikroorganisme yang dikeluarkan oleh relawan.

Oleh karena itu, peneliti menyarankan agar masker buatan sendiri dijadikan sebagai upaya terakhir untuk mencegah paparan virus.

Masker hibrida

Sebuah penelitian lain menunjukkan adanya masker buatan sendiri yang memiliki tingkat keefektifan mendekati masker N95 atau masker bedah.

Dipublikasikan dalam jurnal American Chemical Society (ACS), sebuah studi dilakukan untuk mengukur tingkat efektifitas beberapa kain, termasuk katun, sutra, flanel, berbahan sintetis, dan kombinasinya.

Meski efektivitas penyaringan berbagai kain ketika satu lapisan berkisar antara 5 sampai 80 persen untuk partikel berukuran >300 nm dan 5 sampai 95 persen untuk partiker <300 nm, tapi tingkat efektivitasnya meningkat ketika digunakan dalam beberapa lapis atau menggunakan kombinasi kain yang berbeda.

Efektivitas penyaringan dari hibrida (seperti kapas-sutra, kapas-sifon, kapas-flanel) adalah lebih dari 80 persen untuk partikel <300 nm dan lebih dari 90 persen untuk partikel >300 nm.

Menurut peneliti, peningkatan kinerja hibrida ini kemungkinan disebabkan oleh efek gabungan dari filtrasi berbasis mekanis dan elektrostatis.

Kapas, bahan yang paling banyak digunakan untuk masker kain, berkinerja lebih baik pada kerapatan tenunan yang lebih tinggi (yaitu jumlah benang) dan dapat membuat perbedaan yang signifikan dalam efisiensi penyaringan.

Dalam studi ini juga disebutkan bahwa celah dalam pemasangan masker buatan sendiri dapat menurunkan kinerja masker lebih dari 60 persen.

Masker kain

Dengan penampilan masker kain yang lebih bervariasi, masker kain yang terbuat dari kantong penyedot debu bisa menjadi alternatif yang efektif untuk mengurangi risiko infeksi.

Tingkat efektivitas kantong penyedot debu diikuti oleh masker yang terbuat dari handuk, teh, sarug bantal, sutra, dan kaus katun.

Namun, efektivitas penggunaan masker kain akan terbukti ketika terdiri dari 2-3 lapisan, seperti hasil studi yang diterbitkan jurnal Medrix.

Scarf atau bandana

Dikutip dari Business Insider, 6 September 2020, scarf atau bandana memiliki kinerja terburuk untuk menghalangi paparan virus.

Dalam sebuah studi, scarf hanya mampu mengurangi risiko infeksi sebesar 44 persen setelah mereka berbagi kamar dengan orang yang terinfeksi selama 30 detik.

Bahkan, setelah 20 menit, scarf hanya mampu mengurangi risiko infeksi sebesar 24 persen.

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo
Infografik: Membandingkan Efektivitas Berbagai Jenis Masker

#Melihat #Masker #Terbaik #dan #Terburuk #untuk #Perlindungan #dari #Virus #Corona

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts