Ketika Penjualan Daging Paus di Norwegia Melonjak Selama Covid-19

  • Whatsapp
banner 468x60

OSLO, KOMPAS.com – Saat industri parawisata di berbagai negara dihantam pandemi Covid-19, para pemburu paus di Norwegia justru meraup keuntungan karena penduduk di negara itu hanya bisa berlibur di dalam negeri.

Read More

banner 300250

” Daging paus adalah bagian dari kenangan masa kecil saya,” kata Frode Revke, sembari menyusun setumpuk keju tradisional Norwegia.

“Ibu saya bahkan memasak spaghetti bolognese dengan bahan dasar daging paus.

“Saat berkunjung ke Italia pertama kali, saya sangat kecewa. Spaghetti bolognese buatan mereka tidak ada apa-apanya dibanding buatan ibu saya,” ujar Frode.

Frode adalah pemilik Ost & Sant, sebuah toko yang menjual olahan daging dan keju tradisional di pusat kota Oslo. Setiap tahun tokonya selalu disesaki turis mancanegara, tapi situasinya berbeda pada tahun 2020.

“Tahun ini yang datang ke toko saya rata-rata orang Norwegia. Mereka yang tidak bisa berwisata atau makan di restoran biasanya masak di rumah. Kondisi itu mengubah apa yang kami jual,” tuturnya.

Dan barang yang paling laku di tokonya adalah daging paus.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, industri penangkapan dan penjualan ikan paus mendapatkan permintaan tinggi dari konsumen.

Musim panas tahun ini, warga Norwegia yang biasanya berwisata ke Italia dan Spanyol memilih menghabiskan liburan ke kawasan utara negara mereka seperti Kepulauan Lofoten.

Di kawasan itu terdapat fyord alias teluk berair sangat jernih yang terbentuk dari lelehan gletser. Ada pula tebing-tebing garis pantai. Pada musim panas, matahari tak terbenam hingga tengah malam di wilayah tersebut.

Pada pertengahan abad ke-20, banyak spesies paus menuju kepunahan. Pada tahun 1986 International Whaling Commission (IWC) melarang pemburuan paus. Hanya Norwegia, Islandia, dan Jepang yang diizinkan menangkap paus dalam skala besar.

Komunitas adat di Alaska, Kanada, Greenland, dan Rusia juga dikecualikan dalam larangan itu, tapi mereka hanya diperbolehkan memburu dalam jumlah kecil. Hal yang sama berlaku untuk dua negara di kawasan Karibia, yaitu St Vincent dan Grenada.

Norwegia menganggap larangan IWC tadi tidak sesuai dengan tradisi dan budaya mereka.

Pemerintah Norwegia saat itu berkata, penangkapan paus di negara mereka dilakukan dalam industri yang berkelanjutan.

BBC News Daging ikan paus yang dipasarkan di salah satu supermarket Norwegia. Selama Covid-19, permintaan akan daging paus dilaporkan mengalami peningkatan.

Menurut Alessandro Astroza, penasehat senior Kementerian Perdagangan Norwegia, ikan paus adalah persoalan sensitif di negaranya.

Astroza mermpertanyakan mengapa daging ikan paus dianggap lebih baik ketimbang sumber protein hewani lainnya.

Paus minke, jenis ikan paus yang diburu di Norwegia, berkembang biak di alam bebas dan tidak dalam status terancam punah. Industri penangkapan paus pun tidak menghasilkan gas metana seperti peternakan sapi.

api seperti apa sebenarnya rasa daging ikan paus? Cita rasanya memang unik.

Secara tradisional, daging paus disajikan mentah atau diolah melalui teknik pengasapan. Orang Norwegia menggunakan terminologi yang sama untuk menyebutnya: tran.

Tidak ada terjemahan langsung dalam bahasa Inggris untuk istilah itu. Namun cita rasanya bisa digambarkan seperti “rasa minyak ikan cod”.

Tekstur daging ikan paus dapat disejajarkan dengan daging sapi, tapi jauh lebih asin.

Selama bertahun-tahun permintaan ikan paus di pasar Norwegia terus menurun. Tahun 2019, jumlah tangkapan ikan paus di negara itu tercatat sebagai yang paling rendah dalam 20 tahun terakhir.

Tahun lalu secara keseluruhan terdapat 429 ikan paus minke yang diburu. Sebagai perbandingan, saat ini lebih dari 100.000 paus minke hidup di peairan Norwegia dan Laut Barents.

Sementara tahun ini, jumlah tangkapan meningkat hingga 500 paus minke, hingga artikel ini disusun.

Menurut para pemburu tradisional, angka permintaan melebihi penawaran untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir.

amun mengapa permintaan daging paus bisa melonjak? Faktor pendorong terbesarnya, menurut Oyvind Haram dari Federasi Boga Bahari Norwegia, lebih dari pandemi Covid-19.

Oyvind berkata, upaya membuat daging paus lebih menarik untuk pecinta kuliner telah terbayarkan.

“Untuk menarik perhatian, Anda harus memulai sejak dini, seperti mengiklankannya di media sosial pada bulan Januari, jauh sebelum musim pemburuan dimulai,” tuturnya.

Menurut Oyvind, paus merupakan makanan lokal yang tak memerlukan ongkos ekspedisi besar. Sumber protein ini disebutnya juga berdampak positif bagi kesehatan, berkelanjutan, dan tersedia dalam jumlah pasti sesuai musim.

Oyvind menjual strategi ramah lingkungan ini kepada konsumen berusia muda. Dia juga aktif memberikan resep olahan paus segar.

Belakangan ini Oyvind mulai bekerja sama dengan sejumlah koki terkemuka asal Norwegia.

Jonathan Romano adalah salah satu rekan kerja sama Oyvind. Ia bekerja sebagai pembuat sushi sebelum memenangkan lomba masak ala MasterChef Norwegia.

Tumbuh dewasa di keluarga berlatar belakang Filipina, Romano tidak makan daging ikan paus saat kecil. Awalnya, dia juga melihat konsumsi daging paus sebagai tradisi peninggalan kuno.

Setelah bertemu Oyvind di pameran makanan paus, pandangannya berubah.

“Masalahnya adalah Anda terbiasa menyantap daging dalam sajian sup dengan kuah kental dan lembut,” kata Romano.

“Dagingnya menjadi sangat keras dengan rasa logam yang kuat. Sebaliknya, kamu harus memakannya setelah digoreng sempurna atau dibakar hingga setengah matang,” ujarnya.

Romano yakin akan lebih banyak koki yang akan mengolah daging paus pada tahun-tahun mendatang.

Nelayan menurunkan paus Minke dari kapal di pelabuhan Kushiro, prefektur Hokkaido, pada 1 Juli 2019, setelah Jepang resmi dari Komisi Penangkapan Paus Internasional (IWC).AFP / KAZUHIRO NOGI Nelayan menurunkan paus Minke dari kapal di pelabuhan Kushiro, prefektur Hokkaido, pada 1 Juli 2019, setelah Jepang resmi dari Komisi Penangkapan Paus Internasional (IWC).

Seperti banyak industri tradisional lainnya, perburuan paus bergantung pada ikatan keluarga. Tradisi itu dilanjutkan oleh anak laki-laki yang mengikuti ayah mereka ke laut lepas.

Namun tradisi ini tidak akan bertahan selamanya. Belakangan ini tidak ada lagi perekrutan pemburu paus, meskipun profesi ini kemungkinan menghasilkan Rp 2,6 miliar dalam setahun.

Untuk mendorong lebih banyak orang masuk ke dalam industri perburuan paus, pemerintah Norwegia memutus birokrasi yang mengurusi urusan ini. Walau terkenal sebagai cara mencari nafkah yang berbahaya, warga Norwegia kini lebih mudah mendapatkan izin operasi untuk kapal mereka.

Industri perburuan paus menjadi salah satu solusi bagi warga Norwegia, terutama karena harga minyak global pada 2020 jatuh dan menyempitkan lapangan pekerjaan pekerjaan di lepas pantai Norwegia.

Norwegia selama ini membangun kekayaan dari cadangan minyak mentahnya yang besar, tapi industri minyak pada tahun 2020 sangat terpengaruh situasi global.

Jadi, dapatkah 2020 menandai awal kebangkitan jangka panjang untuk industri perburuan paus di Norwegia? Sulit untuk menjawabnya.

Siri Martinsen, pegiat di kelompok kesejahteraan hewan antiperburuan paus, Noah, menyebut konsumen berusia muda enggan menyantap daging ikan paus.

Martinsen mendasarkan pendapatnya pada sebuah penelitian yang menyebut bahwa hanya 4 persen orang Norwegia yang rutin makan daging ikan paus.

Menurutnya, tren itu tidak mungkin berubah.

Namun Ole Myklebust memprediksi tahun 2020 akan berbeda. Perusahaannya memasok lebih dari 20 persen daging paus secara nasional, sekaligus mengoperasikan satu-satunya rute ekspor Norwegia ke Jepang.

Di pabrik milik Myklebust di sebuah pulau terpencil bernama Haroya, daging ikan paus seberat 100 kilogram dimasukkan ke dalam peti kayu.

Pisau seukuran tongkat hoki bersandar ke dinding. Potongan kecil daging ikan paus yang tercecer diubah menjadi makanan untuk anjing penarik kereta salju yang lapar. Tidak ada daging yang terbuang.

Myklebust berkata, dia menjual lebih banyak daging paus ke jaringan supermarket terbesar di Norwegia. Dia berharap akan mendapat kontrak yang lebih besar pada 2021.

Kembali ke Oslo, Frode Revke merenungkan perubahan di toko makanannya yang sering dikunjungi anak muda Norwegia trendi.

“Saya menjual tenderloin paus yang diawetkan dan paus asap hangat untuk membuat carpaccio,” katanya. “Tapi sosis paus adalah yang paling populer.

“Ketika saya mulai menjualnya, saya berpikir, ‘ini hanya hal yang menyenangkan, rasa ingin tahu.’ Tetapi dalam beberapa bulan, ini menjadi produk paling populer di seluruh toko,” ujarnya.

#Ketika #Penjualan #Daging #Paus #Norwegia #Melonjak #Selama #Covid19

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts