Kenapa Anak Bisa Mengalami Anemia Defisensi Besi?

  • Whatsapp
banner 468x60

KOMPAS.com – Seperti orang dewasa, anak juga bisa mengalami anemia defisiensi besi (ADB). Sesuai namanya, kondisi ini terjadi saat anak mengalami penurunan jumlah sel darah merah atau hemoglobin karena kekurangan zat besi.

Read More

banner 300250

Faktornya bermacam-macam, mulai dari kurangnya asupan makanan yang mengandung zat besi hingga tubuh yang tidak bisa optimal menyerap zat besi.

Akibatnya, sistem kekebalan tubuh terganggu. Bahkan, dampak lebih jauh bisa menyebabkan stunting dan IQ rendah. Pada remaja, dampaknya juga bisa memengaruhi konsentrasi sampai menurunkan prestasi belajar.

Mencegah anemia defisiensi zat besi

ADB dapat dicegah. Caranya, dengan mengonsumsi makanan yang kaya zat besi seperti daging, sereal, dan kacang-kacangan.

Cara lainnya dengan makan buah-buahan yang kaya vitamin C, seperti jeruk, melon, tomat, dan stroberi.

Namun, pada anak yang masih suka pilih-pilih makanan atau bayi, tablet penambah darah juga bisa jadi alternatif. Akan tetapi, dosisnya harus melalui pengawasan dokter.

Bayi rentan mengalami

Pada dasarnya, usia yang rentan terhadap risiko anemia defisiensi besi adalah bayi. Umumnya, kasus ini disebabkan berbagai faktor, seperti bayi lahir prematur, lahir dengan berat badan rendah, dan ada masalah saat proses pemberian makanan pendamping air susu ibu (MPASI).

Tanda-tanda bayi mengalami anemia defisiensi besi, yakni melakukan aksi gerakan tutup mulut (GTM). Kondisi ini terjadi karena nafsu makan anak menurun.

Selain itu, bayi juga biasanya menjadi mudah rewel, sering mengeluh pusing, denyut jantung cepat, kulit terlihat lebih pucat, mudah lelah dan kurang aktif, juga mudah terkena infeksi karena daya tahan tubuh rendah.

Jika mendapati beberapa tanda di atas, sebaiknya generasi bersih dan sehat (Genbest) segera menghubungi dokter.

Perlu diketahui, diagnosis ADB tidak bisa dilakukan secara mandiri di rumah. Bayi harus menjalani serangkaian tes berdasarkan anjuran dokter.

Takaran suplemen

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP) berdasarkan skrining universal, penggunaan suplemen zat besi pada bayi bisa dimulai pada usia 4 bulan. Sementara, menurut Organisasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pemberian suplemen zat besi dapat diberikan lebih awal, yakni sejak usia 2-23 bulan, dengan dosis tunggal 2 miligram per kilogram berat badan bayi per hari.

Anjuran WHO tersebut dapat dilakukan terhadap bayi yang lahir dengan berat badan rendah. Umumnya, bayi dengan kondisi tersebut memang memiliki risiko 10 kali lipat lebih tinggi mengalami defisiensi besi.

Bagi bayi prematur dengan berat badan masih dalam taraf aman, anak dapat diberikan suplemen zat besi sekurang-kurangnya pada dosis yang sama hingga usia 12 bulan.

Hal ini mengingat kebutuhan zat besi anak akan terus meningkat selama masa pertumbuhan, dan ia berisiko mengalami defisiensi besi.

Bagi bayi yang lahir dengan berat badan lahir sangat rendah, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pemberian suplemen zat besi sebanyak 2-4 miligram per kilogram berat badan per hari dengan maksimum 15 miligram per hari.

Adapun durasi waktunya juga lebih awal, yakni sejak usia 1 bulan dan diteruskan hingga ia berusia satu tahun.

Bagi bayi yang lahir pada cukup bulan biasanya defisiensi besi terjadi ketika mereka memasuki masa-masa akhir ASI eksklusif atau saat masuk periode MPASI.

Dianjurkan oleh IDAI, orangtua memberikan suplemen zat besi dengan dosis 2 miligram per kiloram berat badan per hari.

Sebaiknya, pemberian suplemen dimulai sejak usia 6-23 bulan. Namun, harus tetap diingat, pemberian suplemen zat besi ini harus tetap dalam pengawasan dokter, atau berdasarkan anjuran dokter, ya.

Untuk anak yang lebih besar, Anda bisa konsultasi dulu pada dokter untuk mengetahui takaran suplemen yang tepat.

#Kenapa #Anak #Bisa #Mengalami #Anemia #Defisensi #Besi

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts