Federasi Serikat Guru Dukung Penyederhanaan Kurikulum 2013

  • Whatsapp
banner 468x60

KOMPAS.com – Federasi Serikat Guru Indonesia (FGSI) menyatakan mendukung rencana penyederhanaan Kurikulum 2013 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud).

Read More

banner 300250

Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia ( FSGI) Retno Listyarti mengatakan, Kurikulum 2013 memang sudah saatnya disederhanakan terlebih di tengah adanya kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama masa pandemi Covid-19.

“Tidak dalam kondisi pandemi saja Kurikulum 2013 sulit dituntaskan, apalagi di saat bencana seperti saat ini,” papar Retno dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Minggu (27/9/2020).

Ada sejumlah catatan yang diajukan FSGI apabila pemerintah memutuskan untuk menyederhanakan Kurikulum 2013.

Pertama, kata Retno, penyederhanaan adalah untuk mengurangi muatan kurikulum 2013 yang selama ini sarat beban dan sulit dituntaskan.

“Penyederhanaan kurikulum berfokus pada pengurangan muatan, terutama materi yang tumpang tindih antar mata pelajaran terkait, bukan menghilangkan mata pelajaran tertentu,” imbuhnya dalam poin kedua.

Ketiga, penyederhanaan juga diperlukan di saat pandemi Covid-19 karena PJJ menimbulkan sejumlah kendala. Mengingat, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) sempat menyatakan bahwa tak ada penyederhanaan kurikulum hingga 2022.

Selanjutnya, Retno mengatakan alasan lain penyederhanaan selama pandemi adalah karena jam belajar setiap mata pelajaran sudah banyak dikurangi.

Terkait pelajaran sejarah, catatan FSGI di poin kelima ialah untuk Matpel Sejarah, penyederhanaan dilakukan untuk penguatan muatan sejarah lokal dalam konteks sejarah nasional Indonesia.

Termasuk, dilakukan penguatan pembelajaran sastra untuk Matpel Bahasa dan Sastra Indonesia.

Retno mengatakan, ini menjadi momentum bagi FSGI untuk memberikan sejumlah masukan kepada Kemendikbud, di antaranya untuk mata pelajaran Sejarah serta Bahasa dan Sastra Indonesia.

“Penguatan pendidikan kesusastraan penting, sebab, generasi muda dapat belajar budaya lewat sastra. Karena selama ini, pembelajaran sastra lemah. Sastra yang berkembang justru penguasaan teori-teori,” papar Retno.

Begitupun kurikulum Sejarah, ia mengatakan harus memasukan aneka pengetahuan dan kearifan lokal yang telah lahir dari rahim peradaban manusia Indonesia sendiri selama berabad-abad.

“Peserta didik lebih banyak belajar peristiwa sejarah di luar lokal di mana mereka bertempat tinggal. Siswa yang belajar sejarah maritim tidak mengenal lokalnya sebagai wilayah maritim, terkecuali mereka yang tinggal di wilayah kerajaan maritim besar Indonesia dan tercantum dalam buku teks pelajaran sejarah,” ujar Retno.

Padahal, lanjut dia, dengan memahami kontribusi nenek moyangnya dalam berbagai peristiwa sejarah Indonesia, akan menimbulkan perasaan kedekatan yang positif pada diri siswa sebagai ahli waris kehidupan bangsa.

Rekomendasi FGSI dalam penyederhanaan kurikulum 2013

FGSI pun memberikan tujuh rekomendasi kepada Kemendikbud terkait penyederhanaan Kurikulum 2013.

Pertama, FSGI mendorong proses pembelajaran Sejarah Indonesia diubah, tujuannya untuk membangun memori kolektif sebagai bangsa sebagai dasar pengembangan karakter siswa.

Kedua, FSGI mendorong pendekatan pembelajaran sejarah saat ini yang lebih berorientasi pada peristiwa nasional dan yang tertulis pada buku pelajaran, diubah ke pendekatan semasa (sinkronik).

Sehingga, peristiwa sejarah di wilayah lokal yang terjadi satu masa dengan peristiwa sejarah Indonesia juga dipelajari sebagai suatu keterkaitan mata rantai peristiwa sejarah.

Ketiga, FSGI mendorong pembelajaran sejarah Indonesia harus menyadarkan siswa bahwa sejarah masih hidup pada masa kini dan menjadi living history yang mungkin tidak disadari.

Untuk itu, pembelajaran sejarah Indonesia harus mampu meyakinkan siswa bahwa belajar sejarah Indonesia bukan belajar sesuatu yang sudah mati, melainkan sesuatu yang terus-menerus berkelanjutan dalam kehidupan mereka masa kini, masa depan, dan akan terus hidup pada generasi muda yang akan datang.

Keempat, FSGI mendorong Kemendikbud untuk mengangkat sejarah kejayaan maritim bangsa Indonesia.

Kelima, FSGI mendorong Kemendikbud melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan dapat menginisiasi secara terus menerus berbagai penelitian dan penulisan sejarah lokal di berbagai daerah di Indonesia agar dapat menjadi sumber pembelajaran Sejarah di sekolah.

Keenam, FSGI mendorong Kemendikbud menempatkan Bahasa dan sastra Indonesia berorientasi sebagai media untuk memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, identitas, kebahasaan, jati diri bangsa, dan aspek-aspek lain yang terkait dengan kecerdasan linguistik seorang siswa.

“Karena, dalam K13 arah pelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 cenderung menempatkan bahasa Indonesia hanya dijadikan alat untuk menyampaikan materi pelajaran ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial serta pelajaran lain,” papar Retno.

Ketujuh, FSGI mendorong Kemendikbud melakukan penguatan pendidikan kesusastraan dalam kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra Indonesia.

Sebab, generasi muda dapat belajar budaya lewat sastra.

#Federasi #Serikat #Guru #Dukung #Penyederhanaan #Kurikulum

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts