Cegah Masalah Tumbuh Kembang Bayi dengan Rutin Periksa ke Faskes Halaman all

  • Whatsapp
banner 468x60

KOMPAS.com – Bayi baru lahir biasanya disarankan untuk rutin diperiksa pada fasilitas kesehatan ( Faskes) seperti posyandu, klinik bidan, atau rumah sakit. Adapun tujuannya, agar kesehatan dan tumbuh kembangnya terpantau.

Read More

banner 300250

Adapun yang rutin diperiksa biasanya berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala. Idealnya ketiga hal tersebut mengalami perubahan yang pesat pada periode emas pertumbuhan anak.

Oleh karena itu, hasil pemantauan ini dapat menjadi tolok ukur apakah anak bertumbuh sesuai dengan usianya atau mengalami masalah tumbuh kembang dan kesehatan, seperti malnutrisi atau bahkan stunting.

Dalam laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dijelaskan, indikator berat badan dan tinggi badan dapat menentukan status gizi anak apakah obesitas, gizi lebih, gizi baik, gizi kurang, dan gizi buruk.

Sementara indikator tinggi badan yang dibandingkan dengan usia dan jenis kelamin menunjukkan apakah tinggi anak masuk kategori normal, pendek, atau sangat pendek.

Pemantauan tumbuh kembang untuk bayi usia 0-12 bulan dianjurkan setiap bulan. Sementara anak usia 12 sampai 24 bulan dianjurkan tiap 3 bulan, dan anak usia 24 bulan sampai 72 bulan dianjurkan tiap 6 bulan.

Dijelaskan pula semua anak umur 0-6 tahun dapat melakukan pemantauan pertumbuhan di tingkat pusat eksehatan masyarakat (puskesmas).

Sementara bayi dan anak yang memiliki risiko tinggi sebaiknya diperiksa oleh dokter anak di rumah sakit.

Maksud bayi “risiko tinggi” adalah bayi-bayi yang mempunyai riwayat lahir kurang bulan, berat lahir rendah, bayi baru lahir yang mengalami infeksi, penurunan kadar gula darah, sindrom sesak napas, atau kejang.

Pemantauan kesehatan secara rutin memang disarankan dilakukan di Faskes dan tidak dirumah. Berikut alasannya

Pertama, pemantauan pertumbuhan anak didasarkan pada standar WHO, yakni mengukur berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala.

Saat di rumah, orangtua biasanya hanya mengukur pertumbuhan tinggi badan dan berat badan, sementara pengukuran lingkar kepala seringkali luput dari pemantauan. Padahal, hal ini juga termasuk dalam salah satu indikator gizi seorang anak.

Pengukuran lingkar kepala dilakukan setiap tiga bulan sampai usia anak satu tahun, dan setiap 6 bulan sampai usia anak 6 tahun.

Adapun, hasil pengukuran lingkar kepala dapat dibagi menjadi normal, kecil (mikrosefali), dan besar (makrosefali). Lingkar kepala yang kecil ataupun besar dapat disebabkan gangguan pertumbuhan otak.

Kedua, proses pemantauan pertumbuhan anak di Faskes dilakukan oleh ahli dan akan dicatat pada Kartu Menuju Sehat (KMS). KMS memuat kurva pertumbuhan seorang anak berdasarkan jenis kelamin, umur dan berat badan, serta tinggi badan dan lingkar kepalanya.

Normal atau tidaknya pertumbuhan seorang anak dapat diketahui hanya melihat kurva yang terdapat pada KMS. Dari situ, pertumbuhan anak dapat dideteksi. Jika si kecil memiliki status gizi yang buruk atau mengkhawatirkan, pencegahannya dapat dilakukan sedini mungkin. Hal ini guna menghindarkan anak dari risiko terkena gangguan gizi atau stunting.

Keuntungan lain emmeriksa rutin di Faskes adalah adanya fasilitas tambahan, seperti imunisasi, pemberian berbagai vitamin, pemeriksaan kesehatan hingga stimulasi pertumbuhan.

Dengan membawa anak ke faskes, pemeriksaan fisik si kecil dapat lebih optimal. Generasi bersih dan sehat (Genbest) juga bisa berkonsultasi langsung dengan ahli untuk mendiskusikan pertumbuhan si kecil.

Selama masa new normal, Faskes sudah kembali dibuka dan memberikan pelayanan. Meski begitu, orangtua sebaiknya membuat janji terlebih dahulu.

Hal ini untuk menghindarkan si kecil dari risiko kontak dengan banyak orang. Jangan lupa patuhi protokol kesehatan, ya, Genbest.

 

#Cegah #Masalah #Tumbuh #Kembang #Bayi #dengan #Rutin #Periksa #Faskes #Halaman

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts