Berkaca dari AS, Banyak Pengidap Covid-19 Tak Laporkan Kontak Dekatnya

  • Whatsapp
banner 468x60

KOMPAS.com – Jika dilakukan secara efektif, pelacakan kontak pengidap Covid-19 dapat membantu memutus rantai penularan virus.

Read More

banner 300250

Namun sayangnya, hal ini masih belum sepenuhnya dilakukan secara disiplin oleh masyarakat.

Sikap non-kooperatif dari individu yang terinfeksi, dan kegagalan untuk menjangkau kontak dekat menyebabkan transmisi berkelanjutan.

Bukan hanya di Jakarta, dan kota-kota lain di Indonesia, bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat pun, warganya masih tak sadar dengan pentingnya pelacakan tersebut.

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), di wilayah Carolina Utara -misalnya, hampir setengah dari pengidap virus corona di satu daerah tidak melaporkan kontaknya.

Lalu, ketika kontak diberikan ada tak kurang dari seperempatnya tidak dapat dihubungi.

“Peningkatan ketepatan waktu pelacakan kontak, keterlibatan komunitas, dan mitigasi di seluruh komunitas diperlukan untuk mengurangi penularan SARS-CoV-2,” ungkap CDC, seperti dilansir New York Post.

CDC juga menerbitkan analisis data dari dua wilayah North Carolina, yakni di Mecklenburg County dan Randolph County, di mana penularan virus memiliki insiden tinggi.

Menurut laporan CDC, pada rentang 1-12 Juli, kejadian kasus virus di Carolina Utara melonjak 183 persen.

“Selama periode insiden Covid-19 yang tinggi di Carolina Utara, 48 persen pasien Covid-19 di Mecklenburg County melaporkan tak ada kontak, dan 25 persen kontak tidak dapat dihubungi.”

“Sementara di Randolph County, 35 persen pasien Covid-19 melaporkan tidak ada kontak dan 48 persen kontak tidak bisa dihubungi,” ungkap CDC.

Penyebab kontak dekat tak terlacak

Pejabat kesehatan dilaporkan menyelidiki 77- 99 persen kasus baru dalam waktu empat hari sejak pengambilan spesimen.

CDC sempat menawarkan beberapa penjelasan untuk penelusuran kontak yang tidak berhasil.

Beberapa kemungkinan penyebab penelusuran kontak gagal di antaranya ketidakmampuan para pejabat membangun hubungan yang baik dengan panggilan telepon.

Lalu, pengidap juga tidak ingin mengisolasi kontak, karena keperluan pekerjaan potensial dan konsekuensi keuangan.

Atau, mungkin orang-orang yang berkontak dengan pasien ragu-ragu untuk menjawab telepon dari nomor yang tidak dikenal.

CDC juga berteori bahwa banyaknya volume pekerjaan mungkin telah memengaruhi kemampuan pejabat untuk menghubungi orang-orang terkait pelacakan kontak.

CDC menulis, data dari North Carolina serupa dengan yang ada di Maryland dan New Jersey.

Sekitar 50 persen dan 52 persen dari kasus yang dilaporkan, masing-masing, melaporkan tidak ada kontak.

Proporsi kontak yang dihubungi dikatakan sebanding, yakni 50 persen dan 54 persen, masing-masing di Maryland dan New Jersey.

“Partisipasi dan kerja sama yang relatif rendah dengan pelacakan kontak menunjukkan kurangnya dukungan dan keterlibatan komunitas untuk keperluan ini,” demikian penjelasan CDC.

Temuan ini mengungkapkan, meskipun dua departemen kesehatan di dua wilayah North Carolina menyelidiki sebagian besar kasus indeks, sebagian besar orang dengan Covid-19 di daerah tersebut tak melaporkan kontak dekatnya.

Atau, -seperti yang disebut di atas, banyak kontak yang tidak bisa dihubungi. Padahal, melacak kontak dekat adalah bagian dari strategi mitigasi.

CDC mengatakan, data yang dilaporkan sendiri oleh pasien dan kontak dari departemen kesehatan daerah dapat memengaruhi validitas data.

Meski temuan ini terjadi di AS, penting pula bagi kita untuk menanamkan pada diri sendiri pentingnya melaporkan kontak dekat, terutama jika kita terinfeksi.

Sebab, pelacakan kontak yang efektif akan sangat berkontribusi terhadap penurunan penularan Covid-19.

#Berkaca #dari #Banyak #Pengidap #Covid19 #Tak #Laporkan #Kontak #Dekatnya

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts