Belajar Bertani Tanpa Bakar Lahan Gambut dari Masyarakat Sumatera Selatan

  • Whatsapp
banner 468x60

KOMPAS.com – Saat ini ada 195 petani dari 11 desa di Provinsi Sumatera Selatan yang telah memanfaatkan gambut tanpa membakar.

Read More

banner 300250

Hal ini merupakan program Desa Peduli Gambut (DPG), bentuk kerjasama Badan Restorasi Gambut (BRG) dengan Lembaga Kemitraan – the Partnership for Governance Reform, yang mengajak petani menerapkan pengelolaan lahan tanpa bakar (PLTB).

Dimulai dari penyelenggaraan Kebun Pangan Mandiri (KPM) yang dikelola kelompok masyarakat (pokmas), seluruh petani belajar teknik budidaya organik yang ramah lingkungan dalam rangka alternatif revitalisasi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.

Dengan budi daya yang ramah lingkungan, para petani tidak hanya melestarikan lahan gambut dengan bijak, tetapi juga dapat menekan biaya produksi dan perawatan tanaman, sekaligus memenuhi kebutuhan pangan keluarga, bahkan mengurangi sampah rumah tangga sebagai bahan pupuk organik.

Pengelolaan lahan tanpa bakar, sebenarnya adalah hal baru bagi para petani. Dengan pemahaman terbatas, petani juga harus berperang melawan serangan hama, ketidakpastian musim, dan tanah gambut yang seringkali tak bisa ditebak.

Maka dari itu, masyarakat mengembangkan inisiatif untuk membudidayakan perkebunan di dalam desa sebagai alternatif beradaptasi mereka.

Tanaman palawija dan hortikultura seperti padi, jagung, singkong, buncis, dan beragam sayur lainnya saat ini menjadi prioritas, karena waktu panennya cenderung lebih singkat.

Sebut saja desa Rantau Lurus, yang kini telah memiliki produk unggulan beras yang dikenal dengan Beras Gambut.

Dengan mengembangkan pertanian paludikultur dan mempraktikan KPM, para petani memakai bahan rendah kimia untuk mengembalikan unsur hara pada lahan, sekaligus menjadi alternatif meningkatkan perekonomian masyarakat desa.

Beda lagi dengan Desa Simpang Tiga Abadi yang mengelola lahan percontohan seluas 20 ribu m2 tanpa membakar gambut dan memanfaatkan gambut sisa sebagai tambak ikan dan keb pertanian.

Kader Desa, Achmad Soleh menjelaskan ada dua pokmas yang aktif dalam desa ini, pokmas Jaya Sentosa terdiri dari bapak-bapak yang aktif membudidayakan ikan di area pertambakan, sementara Pokmas Bintang Ratu terdiri dari ibu-ibu yang menanam tumbuhan palawija dan sayuran.

 

dok. Program Desa Peduli Gambut Perempuan petani Desa Rantau Lurus memanen hasil kebun.

Lahan gambut dimanfaatkan warganya untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi masyarakat, sekaligus memasarkan kelebihannya sebagai sumber penghasilan alternatif.

Hasil tambak diolah dan dikemas untuk diperdagangkan ke luar desa dengan sistem penjualanan offline maupun online.

Desa Rantau Lurus dan Desa Simpang Tiga Abadi menjadi bukti nyata bahwa pertanian di lahan gambut sangat mungkin dilakukan, tanpa membakar dan merusak ekosistem.

Kebun Pangan Mandiri menjadi salah satu solusi terbaik untuk mengembalikan perilaku petani menuju pola bertani alami dan ramah lingkungan.

Masyarakat pun belajar berinisiatif, mengembangkan dan memanfaatkan sumber daya alam dan lahan yang ada di sekitar tempat tinggalnya.

Sebagai bentuk komitmen pemerintah mendukung para petani, pemerintah desa di 11 desa sasaran program telah mengalokasikan anggaran dana desa yang tercantum dalam RKPDes untuk mengembangkan pola bertani alami.

Tercatat lebih dari 50 juta rupiah telah dianggarkan pada 2019 lalu dan lebih dari dua kali lipatnya dialokasikan untuk kegiatan pertanian ramah lingkungan pada 2020 ini.

Harapannya, manfaat baik dari praktik pertanian alami ini tidak hanya meningkatkan kualitas hidup para petani dan keluarganya di 11 desa saja, tetapi dapat direplikasi di lebih banyak lagi daerah.

#Belajar #Bertani #Tanpa #Bakar #Lahan #Gambut #dari #Masyarakat #Sumatera #Selatan

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts