Badak Sumatera Kritis, Berikut Upaya Penyelamatan Populasi Satwa Asli Indonesia Ini

  • Whatsapp
banner 468x60

KOMPAS.com- Kekayaan biodiversitas Indonesia telah diakui dunia, dan semua pihak berharap kelestarian ekosistem tersebut tetap terjaga. Badak Sumatera menjadi salah satu satwa biodiversitas asli Indonesia.

Read More

banner 300250

Saat ini, spesies badak ini masuk dalam status konservasi terancam kritis (critically endangered) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) untuk Konservasi Alam.

Badak Sumatera merupakan spesies langka dari famili Rhinocerotidae, yang dikenal juga sebagai badak berambut atau badak Asia bercula dua (Dicerorhinus sumatrensis).

Untuk diketahui, Badak Sumatera ini dianggap menarik karena spesies ini hanya satu-satunya yang tersisa dari genus Dicerorhinus dan termasuk salah satu dari lima spesies yang masih lestari di dunia.


 

Namun, ternyata populasi badak Sumatera kian mengkhawatirkan karena diperkirakan jumlah populasinya kurang dari 100 ekor atau bahkan di bawah jumlah 80 ekor saat ini.

Upaya penyelamatan Badak Sumatera

Pada tahun 1990, saat penyusunan Strategi dan Rencana Aksi (SRAK) Badak Indonesia 1993-2003, jumlah badak Sumatra diperkirakan berjumlah sekitar 400 individu.

Akan tetapi, dari banyak usaha perlindungan yang sudah dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat sipil, jumlah populasi badak asli Indonesia ini terus berkurang.

Sebagai upaya penyelamatan populasi Badak Sumatera, Pemerintah Indonesia telah menyusun Rencana Aksi Darurat (RAD) atau Emergency Action Plan (EAP) di tahun Penyelamatan Populasi Badak Sumatera 2018-2021.

 

RAD ini merupakan langkah strategis, mendesak, revolusioner, dan memiliki prioritas tinggi untuk menyelamatka Badak Sumatera dari kepunahan.

RAD ini dianggap menjadi sangat penting karena beberapa faktor sebagai berikut.

Di antaranya adalah mengingat saat ini populasi Badak Sumatera kecil, laju perkembangbiakan yang rendah, adanya populasi yang terisolir dan tidak viabel, serta tingginya ancaman perburuan dan kehilangan habitat.

Direktur Eksekutif Yayasan Kehati, Riki Frindos menuturkan dalam upaya mendukung RAD pelestarian Badak Sumatera ini, Yayasan Kehati ikut serta dalam mengeluarkan dana untuk perlindungan spesies tersebut melalui program Tropical Forest Conservation Action (TFCA) Sumatera dan TFCA Kalimantan.

GOH CHAI HIN Gambar yang diambil pada 8 November 2016 ini menunjukkan Andatu, seekor badak Sumatera, salah satu mamalia besar terlangka di dunia, di Suaka Badak di Taman Nasional Way Kambas di Sumatera bagian timur. AFP PHOTO / GOH CHAI HIN

Dana yang dikeluarkan untuk perlindungan spesies dalam rangka mendukung RAD ini senilai hampir Rp100 miliar untuk di Sumatera, dan sekitar Rp16 miliar di Kalimantan.

“Yayasan Kehati melalui mitra-mitra di tingkat lokal dan bersama seluruh pihak akan terus mendukung program pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia, termasuk penyelamatan Badak Sumatera, baik yang terdapat di Sumatera dan Kalimantan,” kata Riki dalam diskusi daring bertajuk Urgensi Penyelamatan Populasi Badak Sumatra, Selasa (22/9/2020).

Riki berkata, dalam upaya penyelamatan satwa dan menjaga kelestarian alam, tidak dapat dilakukan hanya dengan satu jalan saja.

 

Misalnya, tidak bisa terjadi jika hanya sumber daya manusianya, tanpa regulasi dan pendanaan. Sebab, pelestarian alam untuk kepentingan manusia ini membutuhkan semua aspek dan dukungan yang berkaitan tersebut.

“Agar tujuan ini dapat terwujud, kami berharap RAD yang telah disusun dapat selaras dengan rencana pembangunan jangka menengah dan panjang pemerintah daerah,” ujarnya.

Senada dengan Riki, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ir Wiratno MSc juga berkata demikian.

 

“Ini harus ada pendanaan dan SDM yang cukup besar dalam upaya memperlancar rencana aksi darurat (untuk menjaga populasi Badak Sumatera),” kata dia.

Ia juga menegaskan, semua upaya yang dilakukan dalam RAD Badak Sumatera juga tidak bisa terlepas dari basis data dan keilmuan yang jelas.

Hal itu perlu dilakukan supaya RAD bisa berjalan dengan baik, sesuai target yang diharapkan, dan tidak justru membuat kebijakan beserta tindakan berbagai pihak menjaga populasi badak asli Indonesia ini menjadi sia-sia.

“Pelestarian dan tindakan terhadap Badak ini memerlukan sains atau upaya kolektif berbasis evidence based dan scientist,” ujarnya.

#Badak #Sumatera #Kritis #Berikut #Upaya #Penyelamatan #Populasi #Satwa #Asli #Indonesia #Ini

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts