Apa Benar Keramahan Orang Nusantara Picu Monopoli Rempah Eropa?

  • Whatsapp
banner 468x60

KOMPAS.com – Marina Kaneti, Ph.D., dari National University of Singapore berpendapat bahwa cerita soal jalur rempah akan selalu tidak lengkap tanpa menceritakan elemen keramahtamahan orang Nusantara.

Read More

banner 300250

Hal tersebut ia ungkapkan dalam webinar International Forum on Spice Route 2020 sesi Spice Route: A Southeast Asian Perspective, Selasa (22/9/2020).

“Sekelompok orang yang ada di sekitar pelabuhan yang jadi pusat perdagangan di sepanjang Samudera Hindia dan sekitarnya. Bertukar hal dari agama hingga pengetahuan. Pusat dari interaksi ini adalah permintaan rempah,” kata Marina.

Salah satu sebabnya terutama dari kacamata orang Eropa, kala itu selama berabad-abad  pedagang Arab telah melakukan monopoli perdagangan rempah ke Eropa.

Dok. Webinar International Forum on Spice Route 2020 Ilustrasi Alfonso de Albuqerque berusaha menaklukan wilayah penghasil rempah cengkih dan pala, Maluku Utara

Selain diasosiasikan dengan perdagangan, jalur rempah juga diasosiasikan degan para petualang.

Mereka yang akhirnya membuka jaringan perdagangan rempah, sebut saja Ferdinand Magellan, Vasco da Gama, hingga Ibnu Batuta.

“Di saat yang sama, jalur rempah juga jadi bagian kronologis dari kolonialisme dan kenangan perlawanan. Seperti eksposisi Portugis dari Ternate pada 1575 setelah pembunuhan Sultan Khairun,” kata Marina.

Budaya ramah tamah orang Nusantara jadi pemicu monopoli

Budaya ramah tamah orang Nusantara, menurut Marina, punya peran penting dalam terciptanya monopoli rempah oleh Eropa.

Berawal pada 1511, kala itu petualang Portugis Alfonso de Albuqurque berusaha untuk menguasai daerah-daerah penghasil rempah terutama cengkih dan pala yakni Maluku.

Namun ia sendiri tidak memiliki pengetahuan yang cukup terutama soal lokasi Maluku kala itu.

Ia sempat mengerahkan banyak armada miliknya untuk mencari Maluku.

Beberapa kru berhasil menemukan Banda dan Ambon, tetapi kru yang berusaha untuk mencapai Maluku Utara gagal dan akhirnya terombang ambing di laut.

“Sultan Bayan Sula dari Ternate mendengar masalah orang-orang Portugis. Akhirnya ia mengirimkan tim penyelamat, menyambut mereka di Ternate yang sebenarnya adalah tujuan utama mereka dalam mencari rempah,” papar Marina.

Ilustrasi cengkeh, rempah yang dulu digunakan sebagai pengharum mulut. SHUTTERSTOCK/SETYO ADHI PAMUNGKAS Ilustrasi cengkeh, rempah yang dulu digunakan sebagai pengharum mulut.

Kebaikan Sultan Bayan rupanya menjadi celah bangsa Eropa untuk melakukan monopoli rempah.

Pasalnya, sebelum misi Alfonso de Albuquerque ini sudah banyak misi dikirim untuk menemukan pulau Ternate dan Tidore. Namun tak pernah berhasil.

“Dengan Sultan Ternate memberikan akses pada orang-orang Portugis, menunjukkan lokasi persis pulau tersebut berada adalah salah satu momen politis paling signifikan dalam sejarah,” jelas Mariana.

“Kenapa menyelamatkan mereka yang akhirnya akan melakukan kolonisasi pada pulau tersebut,” lanjutnya.

Banyak sejarawan berpendapat bahwa sultan melihat kesempatan untuk membentuk aliansi dengan Portugis. Apalagi Portugis terkenal sebagai pihak yang kuat di daerah sekitar mereka.

Sultan tak memikirkan konsekuensi lebih lanjut dari aksinya ini.

Namun ada juga sejarawan yang beranggapan bisa jadi sebenernya Sultan Bayan mengetahui soal apa yang terjadi di Melaka. Sultan Melaka saat itu bernama Mahmud Syah memenjarakan beberapa orang Portugis.

Albuqurque berhasil masuk ke Pelabuhan Melaka dengan mengalahkan Sultan Melaka.

Sultan Ternate dinilai sejarawan tak mau mengalami nasib yang sama dengan Sultan Melaka.

“Namun bisa juga langkah ini dilakukan karena kode universal soal ramah tamah. Sehingga mereka dengan tangan terbuka menerima orang asing di wilayah mereka,” pungkasnya.

#Apa #Benar #Keramahan #Orang #Nusantara #Picu #Monopoli #Rempah #Eropa

Klik disini untuk lihat artikel asli

Related posts